Senin, 2 Maret 2026

Pekan Ini IHSG Terancam Volatile Imbas Perang Iran Kontra Israel dan AS

Laporan oleh Lea Citra Santi Baneza
Bagikan
Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (27/3/2025). Foto: Antara

Imam Gunadi Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) memprediksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak volatile dengan kecenderungan konsolidasi pada pekan ini, imbas kenaikan risiko geopolitik global.

“IHSG pekan ini berpotensi bergerak volatile dengan kecenderungan konsolidasi dengan support di 8.031 dan resistance di 8.437,” ujar Imam seperti dilansir Antara, Senin (2/3/2026).

Meningkatnya eskalasi konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS), serta ketegangan di Asia Selatan, mendorong kenaikan premi risiko global, khususnya terkait perkembangan di Selat Hormuz, sebagai jalur vital distribusi energi dunia.

Karena, sekitar 20-25 persen pasokan minyak mentah dan LNG dunia melewati Selat Hormuz setiap harinya.

“Ketidakpastian ini berpotensi mendorong penguatan Dollar AS dan kenaikan harga komoditas energi, yang biasanya memicu rotasi dana ke aset safe haven dan menekan arus modal ke emerging markets, termasuk Indonesia,” katanya.

Penutupan atau gangguan terhadap Selat Hormuz berpotensi mengguncang pasar energi global, karena jalur memfasilitasi perdagangan minyak mentah dan gas yang mencapai puluhan juta barel per hari.

Sehingga, hal itu berdampak pada kondisi harga minyak, rantai pasok energi, dan biaya asuransi pengiriman yang bisa melonjak tajam.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak dan batu bara bisa menopang sektor energi dan pertambangan, ketika harga komoditas bertahan tinggi.

Menurut Imam, Indonesia sebagai eksportir batu bara dan komoditas energi, berpeluang menikmati kenaikan harga jual rata-rata (ASP), dan perbaikan margin emiten terkait.

“Dalam kondisi global yang tidak pasti, saham berbasis komoditas sering kali menjadi proxy lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi global,” ungkapnya.

Namun, jika harga energi melonjak tajam dan berkepanjangan, risiko inflasi global dan tekanan terhadap rupiah bakal meningkat.

Kenaikan impor migas berpotensi menekan neraca transaksi berjalan dan memicu peningkatan volatilitas nilai tukar rupiah.

“Jika Rupiah melemah dan imbal hasil obligasi global naik maka volatilitas IHSG bisa meningkat karena investor asing cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko,” katanya.

Imam menilai, arah IHSG jangka pendek bergantung kenaikan harga energi tetap terkendali dan mendukung emiten komoditas, atau justru berubah menjadi shock inflasi yang menekan stabilitas makro.

Selain itu, Imam mengatakan ketegangan Timur Tengah beriringan dengan perubahan kebijakan perdagangan AS, ditambah lembaga pemeringkat kredit memperingatkan meningkatnya tekanan fiskal di Indonesia.

Di tengah ketidakpastian global, kebijakan ekonomi AS juga mengalami berbagai perubahan, dimulai putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan sebagian besar tarif impor global.

Kemudian Trump mengumumkan rencana kenaikan tarif impor global menjadi 15 persen, sebagai respon pembatalan tersebut. Lalu, Departemen Perdagangan AS menetapkan bea masuk anti-subsidi panel surya dari beberapa negara, termasuk Indonesia. Kisaran tarif antara 86 persen dan 143,3 persen.

“Ketentuan tarif tinggi ini dapat menekan ekspor sektor energi terbarukan Indonesia ke pasar AS dan menambah tekanan pada neraca perdagangan sektor terkait,” ujar Imam.

Dari domestik, S&P Global Ratings memperingatkan tekanan fiskal Indonesia terus meningkat. Rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara diperkirakan bertahan di atas level 15 persen, ambang yang menjadi tolok ukur penting dalam penilaian kesehatan fiskal suatu negara.

“Peringatan ini menambah kehati-hatian investor dan pembuat kebijakan dalam menanggapi gejolak global sambil mengelola tantangan fiskal domestik,” pungkasnya.

Awal Maret 2026, pasar mencermati rilis data: PMI Manufaktur Indonesia untuk Februari 2026, Neraca Perdagangan Indonesia untuk Januari 2026, Inflasi Indonesia untuk Februari 2026, dan PMI ISM Sektor Manufaktur Amerika Serikat untuk Februari 2026.

Kemudian, soal PMI ISM Sektor Jasa AS untuk Februari 2026, PMI NBS China untuk Februari 2026, Initial Jobless Claims AS Feb/28, Cadangan Devisa Indonesia, Non-farm Payrolls AS dan Tingkat Pengangguran AS.(ant/lea/rid)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Senin, 2 Maret 2026
32o
Kurs