Jumat, 13 Maret 2026

Pertamina Buka Opsi Impor Alternatif Pasca Ditutupnya Selat Hormuz

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Simon Aloysius Mantiri Direktur Utama PT Pertamina (tengah) memberikan keterangan kepada pers usai acara pembukaan Posko Nasional Sektor ESDM Ramadan dan Idulfitri 1447 H di Kantor BPH Migas, Jakarta, Kamis (12/3/2026). Foto: Antara

PT Pertamina (Persero) membuka opsi sumber impor alternatif, menyusul dinamika distribusi energi global di Selat Hormuz akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.

Simon Aloysius Mantiri Direktur Utama Pertamina menyampaikan langkah itu guna menjaga ketahanan stok energi nasional.

“Jadi tentunya kita sudah antisipasi untuk mencari sumber yang lain supaya ketahanan stoknya juga bisa baik dan bagus,” kata Simon Kamis (12/3/2026) yang dikutip Antara.

Ia menekankan sumber pasokan energi juga berasal dari wilayah Afrika dan AS selain dari kawasan Timur Tengah.

“Untuk antisipasi kami juga melakukan diversifikasi sumber. Sumber-sumber kita tidak hanya dari Timur Tengah, ada juga dari Afrika, ada dari Amerika Serikat, dan berbagai tempat lainnya,” tuturnya.

Ketegangan di Timur Tengah sempat memicu gangguan pelayaran di Selat Hormuz yang merupakan jalur strategis dalam perdagangan energi global dan menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak mentah di dunia.

Berdasarkan catatan pemerintah sebelumnya, ada sekitar 20-25 persen impor minyak mentah Indonesia yang didistribusikan melalui Selat Hormuz.

Langkah ini juga menyusul terhentinya dua kapal tanker milik Pertamina International Shipping (PIS) di kawasan Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz.

Dua kapal tersebut adalah very large crude carrier (VLCC) Pertamina Pride dengan ship management dari NYK serta kapal Gamsunoro yang dikelola oleh Synergy Ship Management.

Dari laporan PIS pada Senin (2/3/2026), Pertamina Pride telah selesai melakukan proses loading dan berlabuh di Ras Tanura, Arab Saudi, sementara Gamsunoro sedang proses loading di Khor al Zubair, Irak.

Sedangkan PIS Paragon dan PIS Rinjani dilaporkan berada di luar dari kawasan perairan di Timur Tengah itu.

“Yang menjadi perhatian kami yang utama adalah keselamatan para kru dan keselamatan kargo kami. Tentunya kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak dari Kementerian Luar Negeri, dari semua pihak dan kita juga mendorong supaya situasi di sana semakin baik,” terang Simon.

Saat ini PIS menjalankan sekitar 345 kapal sebagai dukungan distribusi energi yang dibutuhkan dengan rincian 266 kapal melayani pengangkutan BBM dan avtur, 27 kapal mengangkut minyak mentah, 45 unit melayani distribusi LPG, serta 7 unit mendukung pengangkutan petrokimia dan berperan juga sebagai Floating Storage.

Selain itu Pertamina turut menyampaikan komitmennya untuk mendorong perkembangan produksi energi domestik.

“Kita kan punya kerja sama di Blok Cepu ya, jadi sama-sama harus maksimal. Dengan penambahan fasilitas di sana kita dorong supaya produksinya bisa meningkat,” pungkasnya.(ant/mar/bil/ham)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Jumat, 13 Maret 2026
25o
Kurs