Senin, 16 Maret 2026

Mahasiswa Timur Tengah di Surabaya Tak Bisa Mudik Lebaran Imbas Perang

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Sejumlah mahasiswa asing asal Yaman memutuskan tidak mudik pada libur Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah dan tetap di Surabaya, Minggu (15/3/2026). Foto: Risky suarasurabaya.net

Situasi konflik yang terjadi antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran berdampak pada rencana mudik Lebaran sejumlah mahasiswa asing asal Timur Tengah yang menempuh studi di Surabaya.

Khusay salah satu mahasiswa Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) asal Yaman, mengaku tidak bisa pulang ke negara asalnya karena kondisi keamanan yang tidak menentu, serta mahalnya harga tiket pesawat.

“Selama waktu ini perang pecah antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Jadi kami tidak bisa kembali ke Yaman, karena tiket pesawat, harganya sangat tinggi, dan tidak ada penerbangan terdekat untuk kembali ke Yaman,” katanya di Surabaya, Minggu (15/3/2026) malam.

Khusay mengatakan bahwa sebenarnya ia bisa saja pulang melalui Mesir karena keluarga besarnya juga berada di Mesir. Namun, sang ibu menyarankan agar tetap tinggal di Indonesia demi alasan keamanan.

“Tentang keluarga saya, mereka tidak tinggal di Yaman, tapi tinggal di Mesir. Tapi ibu saya sedang di Yaman sekarang. Beliau bahkan sedang di Yaman saat perang dimulai. Jadi situasinya memang sulit,” ucapnya.

Dengan alasan keamanan, penerbangan yang tidak menentu, serta adanya lonjakan harga tiket pesawat, ia memutuskan tidak pulang kampung saat Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah. Terlebih, keputusan tetap tinggal di Indonesia juga didukung oleh keluarganya.

“Orang tua saya bilang tetap di Indonesia. Saya ke sini untuk satu tujuan, yaitu belajar. Jadi apa pun situasinya harus tetap fokus melanjutkan studi,” ucapnya.

Abdurrahman Khalid, mahasiswa asal Yaman lainnya juga mengungkapkan hal serupa. Ia mengurungkan rencana untuk pulang ke negara asalnya saat libur Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah.

Meskipun negaranya tidak terlibat perang dengan AS, Israel atau Iran, namun ia mengatakan bahwa situasi tersebut sangat berimbas pada stabilitas keamanan di negaranya.

“Selama masa perang ini, tiket untuk kembali ke negara saya naik sekitar tiga atau empat kali lipat. (Tak hanya negara Yaman) semua bandara mungkin bandara utama seperti di Dubai, Abu Dhabi, dan Qatar, semuanya tutup karena perang melawan Iran dan tentu saja ada perang melawan negara-negara Teluk,” ucapnya.

Abdurrahman mengatakan, ia bisa saja pulang ke Jeddah, Arab Saudi menemui keluarga besarnya, namun ia memutuskan untuk tetap tinggal di Indonesia seiring dengan situasi yang belum stabil. Saat ini, Abdurrahman lebih memilih untuk fokus belajar di Indonesia. Ia menempuh pendidikan di jurusan Teknik Mesin Umsura.

“Saat ini saya masih ada banyak kelas, saya tidak bisa pulang. Intinya ada banyak alasan yang melatarbelakanginya tak pulang, ada perang, harga tiket mahal dan durasi libur tidak panjang,” ucapnya.

Abdurrahman bersama Khusay dan beberapa mahasiswa asal Yaman serta negara Timur Tengah lainnya yang tinggal di asrama mahasiswa, akhirnya memilih untuk merayakan Idulfitri 1447 Hijriah di Indonesia.(ris/bil/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Senin, 16 Maret 2026
31o
Kurs