Selasa, 24 Maret 2026

Kasus TB Masih Tinggi, Akademisi Pertanyakan Target Bebas TB 2030 di Indonesia

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Ilustrasi - Seorang dokter yang memeriksa hasil rontgen paru-paru pasien penderita TBC. Foto: Freepik

Ari Baskoro, Dosen Divisi Alergi-Imunologi Klinik Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) mengatakan, target eliminasi tuberkulosis (TB) di Indonesia pada 2030 menghadapi tantangan serius.

Meski sudah diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021, ia mengatakan bahwa realitas di lapangan menunjukkan beban penyakit tersebut masih jauh dari kata terkendali.

Ia menilai, TB bukan sekadar penyakit menular biasa, melainkan persoalan kompleks yang melibatkan sistem imun, faktor sosial, hingga keterbatasan intervensi medis.

“TB memiliki karakter unik. Bakterinya mampu bertahan bahkan ‘memanfaatkan’ sistem imun tubuh untuk berkembang,” katanya kepada suarasurabaya.net pada peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia, Selasa (24/3/2026).

Indonesia saat ini menempati peringkat kedua kasus TB tertinggi di dunia setelah India, dengan estimasi mencapai 1,09 juta kasus. Angka kematian pun masih tinggi, yakni sekitar 134 ribu jiwa per tahun atau setara 17 kematian setiap jam.

Angka tersebut, kata dia, kemungkinan besar hanya puncak dari fenomena “gunung es”. Kasus yang tidak terdeteksi diperkirakan jauh lebih besar dibandingkan yang tercatat secara resmi.

Ia menjelaskan, secara medis, bakteri mycobacterium tuberculosis memiliki kemampuan menghindari sistem pertahanan tubuh. Dalam kondisi tertentu, bakteri tersebut justru berkembang di dalam sel imun seperti makrofag, sehingga sulit dihancurkan.

Kondisi itu, memunculkan TB laten, di mana bakteri tetap hidup dalam tubuh tanpa gejala. Namun, sekitar 10-15 persen kasus laten berpotensi berkembang menjadi TB aktif, terutama ketika daya tahan tubuh menurun akibat penyakit seperti diabetes, kanker, atau gangguan imun.

Kelompok paling rentan adalah orang dengan HIV. Risiko mereka mengalami TB aktif bisa 20-30 kali lebih tinggi, dan TB menjadi penyebab utama kematian pada kelompok tersebut.

Di sisi pencegahan, vaksin Bacillus Calmette–Guérin (BCG) yang telah digunakan lebih dari satu abad masih menjadi andalan. Namun efektivitasnya terbatas, karena hanya optimal melindungi anak dari TB berat dan tidak mampu menghentikan penularan secara penuh.

“Perlindungan BCG cenderung menurun saat dewasa, padahal kelompok usia ini justru menjadi sumber utama penularan,” tuturnya.

Padahal menurutnya, cakupan vaksinasi BCG di Indonesia sudah tergolong tinggi, bahkan di atas 90 persen. Namun hal itu belum cukup untuk menekan laju penularan secara signifikan.

Tantangan lain datang dari faktor sosial. Sekitar 65 persen penderita TB beririsan dengan kemiskinan, yang berdampak pada masalah gizi, kepatuhan pengobatan, hingga risiko komplikasi.

Selain itu, stigma di masyarakat membuat banyak pasien enggan terbuka. Kondisi itu berujung pada rendahnya kepatuhan minum obat, yang kemudian memicu munculnya TB resistan obat (TB-RO), salah satu bentuk paling sulit ditangani.

Di tengah berbagai kendala tersebut, ia menyebut, harapan baru datang dari pengembangan vaksin TB generasi baru. Saat ini, setidaknya terdapat 15 kandidat vaksin yang sedang diteliti secara global.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa Indonesia juga terlibat dalam uji klinis tiga kandidat vaksin, yakni M72/AS01E, BNT164a1, dan AdHu5Ag85A. Namun, vaksin-vaksin tersebut diperkirakan baru dapat digunakan pada 2028 hingga 2029, sehingga waktu yang tersisa menuju target eliminasi 2030 semakin sempit.

“Tanpa terobosan vaksin yang lebih efektif, serta perbaikan deteksi dan kepatuhan pengobatan, target eliminasi TB akan sulit dicapai,” ujarnya.

Dengan beban kasus yang masih tinggi, lemahnya deteksi, serta kompleksitas faktor sosial dan medis, ia menyatakan bahwa eliminasi TB di Indonesia saat ini berada di persimpangan antara ambisi kebijakan dan realitas di lapangan.

“Harapan dan realitas adalah dua sisi tantangan yang harus diperjuangkan. Semoga cita-cita eliminasi TB di Indonesia menemukan solusinya,” pungkasnya.(ris/ham)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Selasa, 24 Maret 2026
28o
Kurs