Selasa, 24 Maret 2026

Harga Minyak Melonjak, Jepang Mulai Lepas Cadangan Energi Nasional

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Sanae Takaichi Perdana Menteri (PM) Jepang. Foto Anadolu

Pemerintah Jepang akan mulai melepaskan cadangan minyak nasional ke pasar mulai Kamis (26/3/2026). Kebijakan ini sebagai respons atas meningkatnya kekhawatiran pasokan energi dan lonjakan harga minyak global di tengah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Sanae Takaichi Perdana Menteri Jepang mengumumkan kebijakan tersebut pada Selasa (24/3/2026), usai memimpin rapat kabinet khusus yang membahas dampak ketegangan di Timur Tengah terhadap perekonomian nasional.

Langkah ini merupakan lanjutan dari kebijakan sebelumnya, di mana Jepang telah lebih dulu melepas cadangan minyak dari sektor swasta sejak pekan lalu.

Menurut Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang, pemerintah berencana menjual sekitar 8,5 juta kiloliter minyak dari cadangan strategis yang tersimpan di 11 fasilitas penyimpanan di seluruh negeri.

Tak hanya itu, Tokyo juga akan mulai memanfaatkan cadangan minyak milik negara-negara produsen di Timur Tengah yang disimpan di Jepang mulai akhir bulan ini.

“Kedamaian dan stabilitas di Timur Tengah sangat penting, tidak hanya bagi Jepang tetapi juga komunitas internasional,” ujar Takaichi dilansir dari Kyodo.

Ia menegaskan pemerintah akan terus mengupayakan langkah diplomatik untuk menekan dampak ekonomi dari konflik yang berlangsung.

Dalam upaya menjaga stabilitas pasokan energi global, Takaichi juga mengungkapkan bahwa dirinya telah berdiskusi dengan Donald Trump Presiden AS terkait pentingnya keamanan jalur distribusi energi, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi rute vital pengiriman minyak dunia.

Sebelumnya, Trump menyatakan keinginannya menyelesaikan konflik melalui jalur diplomasi, meskipun klaim adanya kemajuan negosiasi dibantah oleh pihak Iran.

Ketegangan yang meningkat sejak akhir Februari telah berdampak signifikan terhadap pasokan energi global.

Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran memicu lonjakan harga minyak mentah, yang berdampak langsung pada negara-negara importir seperti Jepang.

Diketahui, lebih dari 90 persen impor minyak mentah Jepang berasal dari kawasan Timur Tengah, dengan sebagian besar distribusinya melewati Selat Hormuz.

Sebagai bagian dari langkah mitigasi, pemerintah Jepang juga mengalokasikan dana sebesar 800,7 miliar yen dari anggaran cadangan tahun fiskal berjalan. Mayoritas dana tersebut akan digunakan untuk subsidi guna menekan lonjakan harga bahan bakar.

Harga bensin di Jepang tercatat mencapai rekor tertinggi sebesar 190,80 yen per liter pada pekan lalu. Pemerintah menargetkan penurunan harga rata-rata nasional ke kisaran 170 yen per liter melalui intervensi tersebut.

Selain kebijakan energi, pemerintah juga tengah mengkaji dampak lanjutan terhadap sektor industri, termasuk potensi penurunan produksi etilena yang menjadi bahan baku utama industri plastik, serta strategi diversifikasi sumber impor minyak. (saf/faz)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Selasa, 24 Maret 2026
26o
Kurs