Selasa, 14 April 2026

BMKG: Kemarau 2026 Lebih Kering dari Rata-Rata Selama 30 Tahun

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Ilustrasi Kekeringan. Foto: Grafis Suarasurabaya.net

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan musim kemarau tahun 2026 berpotensi lebih kering jika dibandingkan dengan nilai rata-ratanya selama periode 30 tahun terakhir.

Fachri Rajab Direktur Perubahan Iklim BMKG menjelaskan, selain lebih kering, musim kemarau tahun ini diprakirakan akan datang lebih awal dengan durasi yang lebih panjang.

“Bila dibandingkan dengan rata-ratanya selama 30 tahun, musim kemarau tahun ini relatif lebih kering. Namun perlu digarisbawahi, maksudnya adalah lebih kering dari rata-rata, bukan musim kemarau terparah sepanjang 30 tahun,” katanya saat dilansir dari Antara, pada Selasa (14/4/2026).

Fachri meluruskan informasi di ruang publik belakangan ini yang menyebutkan kemarau 2026 sebagai yang paling ekstrem, bahkan sejumlah pihak menamai dengan sebutan yang terkesan sangat mengerikan Kemarau Godzila atau El-Nino Godzila.

Ia menekankan  bahwa BMKG tidak menggunakan istilah tersebut, dan menilai fenomena yang digambarkan itu tidak sepenuhnya benar, cenderung berlebihan untuk disampaikan kepada publik.

Jika dibandingkan tahun per tahun, lanjutnya, kemarau tahun 1997 dan 2015 masih jauh lebih dahsyat, tetapi kondisi tahun ini diprediksi memang lebih kering dibandingkan tahun 2023.

Kondisi kemarau tahun ini dipengaruhi oleh aktifnya fenomena El Nino yang mulai muncul pada akhir April hingga awal Mei 2026, kehadiran fenomena inilah yang berpengaruh pada berkurangnya intensitas curah hujan di wilayah Indonesia

“Perlu pula diketahui El Nino dan musim kemarau itu kedua barang yang berbeda gitu ya. Walaupun El Nino mempengaruhi intensitas dari musim kemarau, tapi musim kemarau bukan karena ada El Nino, bukan gitu ya,” katanya.

Ada atau tidak ada El Nino, jelas dia, di Indonesia tetap ada musim kemarau sepanjang tahun mengingat negara ini beriklim tropis yang hanya ada musim hujan dan kemarau.

“Karena kemarau tahun ini berbarengan dengan aktifnya El Nino, sehingga curah hujannya relatif lebih sedikit. Saat ini intensitas El Nino masih dalam kategori lemah,” ucap Fachri.

Adapun intensitas El Nino tersebut diperkirakan meningkat dari kategori lemah menjadi moderat pada triwulan III tahun 2026, tepatnya sekitar bulan Agustus, September, hingga Oktober sebagaimana analisis dari tim klimatologi BMKG.

Fachri menekankan informasi tersebut harus ditanggapi serius, namun tidak perlu berlebihan atau bahkan menjadi panik.

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor dan masyarakat dalam melakukan mitigasi menjadi hal yang paling penting, agar etersediaan air bersih dan keberlangsungan pertanian-perkebunan terjaga.

“Sekali lagi kami sampaikan bahwa memang tahun ini musim kemarau kita relatif lebih kering dibandingkan dengan rata-ratanya, kemudian ada fenomena El Nino gitu ya. Tapi El Nino itu hanya ada El Nino lemah, moderat, kuat, dan sangat kuat gitu ya, jadi tidak ada El Nino-El Nino lain, tidak ada El Nino Pokemon, tidak ada El Nino King Kong itu nggak ada ya,” pungkasnya.(ant/ris/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Selasa, 14 April 2026
29o
Kurs