Layanan transportasi umum di Surabaya semakin banyak dimanfaatkan oleh kalangan mahasiswa. Selain dinilai lebih ekonomis, moda seperti WiraWiri, Suroboyo Bus, hingga Trans Semanggi Suroboyo dianggap membantu memudahkan mobilitas menuju kampus maupun aktivitas sehari-hari.
Yonisha, mahasiswi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur (Jatim) yang ditemui saat menunggu di halte Rungkut Madya, mengaku telah menggunakan transportasi umum di Surabaya selama sekitar satu tahun terakhir.
Ia paling sering memanfaatkan layanan WiraWiri dan sesekali menggunakan Trans Semanggi Suroboyo untuk berangkat kuliah maupun menjalani aktivitas harian.
Menurutnya, faktor biaya menjadi alasan utama menggunakan transportasi umum, karena hanya dengan menunjukkan kartu tanda mahasiswa (KTM), ia hanya perlu membayar Rp2.500 untuk sekali perjalanan.
“Kalau naik ojek online bisa sampai sekitar Rp38.000, sedangkan pakai WiraWiri jauh lebih murah, cuma Rp2.500 Jadi sangat membantu untuk saya sebagai mahasiswa,” ujarnya.
Ia juga menilai pada rute tertentu, transportasi umum dapat mengantarkan dirinya ke tujuan lebih cepat dibandingkan layanan transportasi online.
Meski demikian, Yonisha menilai masih ada beberapa aspek layanan yang perlu ditingkatkan, terutama fasilitas halte. Menurutnya, sejumlah titik pemberhentian belum dilengkapi fasilitas dasar seperti tempat duduk, peneduh, maupun penerangan yang memadai.
“Beberapa halte cuma ada palang saja, jadi kalau nunggu harus kepanasan atau kehujanan. Bahkan kalau sore ke malam itu ada yang gelap karena minim penerangan,” katanya.
Selain fasilitas halte, ia juga menyoroti kondisi armada yang kerap penuh pada jam sibuk, hal tersebut membuat para penumpang harus menunggu lebih lama karena kendaraan yang melintas sudah tidak dapat menampung penumpang tambahan.
“Sering terjadi (penumpukan di halte) saat jam pulang kerja, pernah sampai nunggu sekitar satu setengah jam karena kendaraan yang lewat sudah penuh,” tuturnya.
Yonisha berharap jumlah armada dapat ditambah atau pada rute dengan penumpang padat kembali menggunakan bus berkapasitas lebih besar agar antrean penumpang dapat berkurang.
Pengalaman serupa juga dirasakan Naura, mahasiswi UPN Veteran Jatim lain yang aktif menggunakan transportasi umum sejak kelas tiga SMA. Awalnya, Naura menggunakan transportasi umum hanya untuk bepergian santai karena enggan membawa kendaraan pribadi dan harus mencari tempat parkir.
Tapi menurutnya, akses menuju halte terkadang menjadi tantangan tersendiri karena beberapa titik pemberhentian terhalang kendaraan yang parkir atau berhenti di sekitar area halte.
“Kadang halte tertutup kendaraan yang parkir atau berhenti di depannya, jadi bus tidak bisa minggir, penumpangnya akhirnya turun agak jauh dari halte,” jelasnya.
Selain itu, kondisi bus yang sering penuh pada beberapa rute juga membuat waktu tunggu menjadi lebih lama. Ia bahkan pernah menunggu lebih dari dua jam karena armada yang datang kebanyakan sudah terisi penuh.
“Waktu itu busnya selalu penuh, jadi akhirnya saya terpaksa naik ojek online saja,” ungkap Naura.
Para pengguna berharap transportasi umum di Surabaya dapat terus berkembang melalui peningkatan fasilitas halte, penambahan armada pada rute padat, serta pengaturan operasional yang lebih optimal. (rzl/bil/faz)
NOW ON AIR SSFM 100
