Penutupan kembali Selat Hormuz memicu gejolak baru di pasar energi global sekaligus mendorong Pemerintah Indonesia meningkatkan komunikasi diplomatik dengan pihak terkait, termasuk Iran, guna mengamankan kepentingan energi nasional.
Bahlil Lahadalia Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan bahwa pemerintah terus melakukan komunikasi intensif di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang berdampak pada pasokan dan harga minyak dunia.
“Kita terus melakukan komunikasi intens dengan pihak dari Iran. Kolaborasi SDM dengan Menlu, Kemenlu dulu, itu juga kita lakukan terus. Doain ya,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (20/4/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan seiring lonjakan harga minyak dunia yang kembali meningkat lebih dari enam persen pada awal pekan, setelah sebelumnya sempat anjlok hampir 10 persen pada Jumat (17/4/2026), menyusul kabar penutupan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Meski situasi memanas, Bahlil enggan membeberkan secara rinci perkembangan terbaru terkait dua kapal milik Pertamina yang dilaporkan masih tertahan di kawasan tersebut.
“Karena tidak semuanya harus kita sampaikan kepada publik. Ini bicara geopolitik dalam kondisi seperti ini. Ya boleh kita terbuka, tapi jangan terlalu terbuka-terbukalah. Nanti malu juga kita ya,” katanya.

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyebut terdapat dua kapal milik PT Pertamina (Persero) yang masih belum dapat melintas di Selat Hormuz.
Pemerintah melalui Kemlu dan Pertamina disebut terus melakukan koordinasi untuk memastikan kelancaran pergerakan kapal-kapal tersebut.
Di pasar global, tekanan geopolitik langsung tercermin pada harga minyak mentah. Mengutip data perdagangan, harga minyak Brent melonjak 6,11 dolar AS atau 6,76 persen menjadi 96,49 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 6,53 dolar AS atau 7,79 persen ke level 90,38 dolar AS per barel.
Saul Kavonic Kepala Riset MST Marquee menilai volatilitas harga minyak saat ini sangat dipengaruhi dinamika geopolitik yang cepat berubah, terutama terkait perkembangan di kawasan Timur Tengah.
“Pasar minyak terus berfluktuasi sebagai respons terhadap postingan media sosial yang berfluktuasi dari AS dan Iran, daripada realitas di lapangan yang tetap menantang bagi aliran minyak untuk kembali normal dengan cepat,” ujarnya.
Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai jalur strategis dunia yang menjadi salah satu titik krusial distribusi minyak global. Ketegangan di kawasan ini kerap langsung berdampak pada stabilitas harga energi internasional dan negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia. (lea/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
