Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Senin (20/4/2026). Penguatan tersebut seiring meredanya tekanan jangka pendek di pasar valuta asing dan munculnya sentimen stabilisasi dari faktor domestik.
Rupiah menguat 21 poin atau 0,12 persen menjadi Rp17.168 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.189 per dolar AS.
“Penguatan rupiah ke Rp17.168 terjadi di tengah kombinasi sentimen domestik dan global yang masih cenderung memberikan tekanan, namun diimbangi oleh faktor stabilisasi jangka pendek,” kata Muhammad Amru Syifa Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Senin (20/4/2026).
Melihat dari sentimen domestik, pelaku pasar menaruh perhatian pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diperkirakan masih berfokus pada stabilitas. Kebijakan yang diambil pun diproyeksikan cenderung mempertahankan suku bunga acuan, disertai optimalisasi intervensi di pasar valuta asing.
Dilansir dari Antara, Amru menilai komitmen BI dalam menjaga nilai tukar dan kepercayaan investor didukung oleh cadangan devisa yang cukup kuat.
Terlebih aksi profit taking (ambil untung) terhadap dolar AS oleh pelaku pasar domestik juga memberikan dorongan penguatan secara teknikal.
Sementara dari sisi eksternal, tekanan masih dipicu oleh penguatan dolar AS seiring meningkatnya permintaan terhadap aset safe-haven di tengah memanasnya ketegangan geopolitik.
“Di samping itu, ekspektasi kebijakan Federal Reserve yang cenderung mempertahankan suku bunga tinggi, serta kenaikan harga minyak dunia, turut menjadi faktor yang membebani rupiah melalui peningkatan risiko inflasi impor,” kata Amru.
Senada dengan ini, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp17.176 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.189 per dolar AS. (ant/mar/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
