Senin, 27 April 2026

El Nino Ancam Jatim, Khofifah Gubernur Minta Semua Daerah Siap Siaga

Laporan oleh Wildan Pratama
Bagikan
Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jatim saat meninjau dampak erupsi Gunung Semeru di Lumajang. Foto: Biro Adpim Pemprov Jatim

Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur menginstruksikan seluruh elemen pemerintah dan mengajak masyarakat untuk siap siaga menghadapi potensi ancaman kemarau ekstrem yang dipicu fenomena El Nino.

Menurut Khofifah, kesiapsiagaan menjadi kunci utama untuk menekan risiko dan dampak bencana kemarau. Seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga bencana kekeringan lahan.

Untuk itu Khofifah menginstruksikan kepala daerah untuk menyiapkan langkah antisipatif secara terencana, terukur, dan berbasis data untuk memitigasi potensi kekeringan.

“Oleh karena itu, seluruh kepala daerah diminta bergerak proaktif sebelum puncak kemarau terjadi,” ujar Khofifah dalam keterangannya, Senin (27/4/2026).

Tak hanya kepada pemerintah daerah, Gubernur Jatim juga mengajak masyarakat untuk turut berperan aktif dalam upaya pencegahan bencana.

Dia mengimbau agar masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan dan sampah tanpa diawasi, menggunakan air secara bijak, serta segera melaporkan potensi bencana kepada pemerintah setempat.

“Saya imbau masyarakat tidak melakukan hal-hal yang dapat memicu terjadinya karhutla,” tuturnya.

Sementara itu berdasarkan data, selama periode 2022 hingga 2025, sekitar 97 persen kejadian bencana di Jawa Timur merupakan bencana hidrometeorologi.

Hal ini menunjukkan bahwa perubahan iklim dan dinamika cuaca bukan lagi ancaman jangka panjang.

“Respons kita tidak boleh biasa-biasa saja. Tidak hanya reaktif, tetapi harus terukur, cepat, dan berbasis data,” tegasnya.

Kemudian pada tahun 2026, sejak Januari hingga 31 Maret, tercatat telah terjadi 121 kejadian bencana alam di Jawa Timur, yang didominasi oleh angin kencang sebanyak 82 kejadian dan banjir sebanyak 27 kejadian.

Dampak dari kejadian tersebut tidak hanya menyebabkan kerusakan infrastruktur, tetapi juga memengaruhi puluhan ribu kepala keluarga.

Menurut Khofifah, tingginya dinamika bencana pada triwulan pertama 2026 menjadi peringatan dini bagi seluruh pihak untuk meningkatkan kesiapsiagaan.

“Hal ini harus menjadi perhatian serius bagi kita semua dan bersama kita lakukan antisipasi,” ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan rilis BMKG, musim kemarau tahun 2026 di Jawa Timur diperkirakan mulai terjadi pada bulan Mei di sekitar 56,9 persen wilayah, dengan puncak kemarau pada bulan Agustus yang mencakup sekitar 70,9 persen wilayah. Bahkan, periode kritis diprediksi meluas hingga mencapai 72,5 persen wilayah.

Durasi musim kemarau tahun ini juga diperkirakan cukup panjang, yakni mencapai 220 hingga 240 hari di sejumlah zona musim.

“Kita akan menghadapi tekanan kekeringan yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Menurut BMKG, terjadi peningkatan dampak kekeringan pada tahun 2026 dibandingkan tahun 2025,” jelasnya. (wld/saf/ham)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Gudang di Jalan Jawar Surabaya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Senin, 27 April 2026
27o
Kurs