Pelaku industri kreatif di Jawa Timur menyuarakan kekhawatiran atas melemahnya aktivitas ekonomi kreatif, terutama di sektor penyelenggaraan acara (event), yang dinilai mengalami penurunan signifikan dalam dua tahun terakhir.
Yusuf Karim Ungsi Ketua DPD Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (Asperapi) Jawa Timur mengungkapkan, pihaknya telah melakukan pertemuan dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim untuk menyampaikan sejumlah indikator pelemahan yang terjadi di lapangan.
“Kami sudah bertemu dengan Kadin Jatim. Kami menyampaikan aspirasi di mana ada indikator-indikator yang membuat kami was-was. Dalam dua tahun terakhir ini ada penurunan kegiatan ekonomi kreatif. Ada yang dikurangi kegiatannya, ada yang ditunda, bahkan ada yang dihilangkan,” ujarnya saat on air di Radio Suara Surabaya, Senin (27/4/2026) malam.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius karena ekonomi kreatif merupakan salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menegaskan pentingnya menjaga arah kebijakan agar tidak terjadi perlambatan yang berisiko menghambat target pertumbuhan ekonomi.
“Jangan sampai kita salah langkah atau salah strategi sehingga cita-cita pertumbuhan ekonomi yang ingin dicapai di 2026 ini justru melambat atau bahkan tidak tercapai,” kata Yusuf.
Ia menjelaskan, sektor ekonomi kreatif memiliki multiplier effect yang besar, baik terhadap penyerapan tenaga kerja maupun peningkatan nilai ekonomi industri.
Dengan 17 subsektor di dalamnya, industri ini disebut menjadi “kendaraan” penting bagi pertumbuhan ekonomi berbasis kreativitas. Ia menambahkan, pelaku industri berharap adanya solusi bersama, termasuk opsi efisiensi yang tidak mematikan sektor usaha.
“Kami siap mencari solusi bersama, mungkin dari sisi efisiensi, tapi tidak membunuh industri,” katanya.
Sementara itu, Delta Raharja Ketua Umum Event Owners Indonesia menyebut dampak perlambatan ekonomi kreatif sangat luas, baik secara nasional maupun di Jawa Timur.
Berdasarkan data BPS 2025 (November), terdapat sekitar 27,4 juta pekerja di sektor ekonomi kreatif secara nasional. Sementara di Jawa Timur, jumlah pekerja kreatif mencapai sekitar 3,8 juta orang.
“Kalau di Jawa Timur sendiri ada 3,8 juta pekerja kreatif. Maka tentu efeknya sangat besar,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kontribusi ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur yang mencapai sekitar 10 persen. Menurutnya, gangguan pada sektor ini bukan sekadar perlambatan, tetapi sudah berdampak nyata terhadap ekosistem ekonomi daerah.
Dari sisi pendukung industri event, Amir Syaifudin Wakil Ketua Umum Rental Indonesia menyampaikan bahwa ekosistem penyelenggaraan acara melibatkan banyak sektor, mulai dari penyewaan sound system, genset, panggung, tenda, hingga peralatan pendukung lainnya.
Secara nasional, asosiasi ini memiliki sekitar 600 perusahaan anggota, sementara di Jawa Timur terdapat sekitar 180 anggota. Ia memperkirakan sekitar 12.000 pekerja di sektor ini terdampak secara tidak langsung akibat menurunnya aktivitas event.
“Kalau situasi ini tidak segera ada solusi, mereka bisa tidak bisa bekerja karena kolam pekerjaannya sedang berkurang dan belum jelas kapan kembali,” ujarnya.
Amir menekankan pentingnya mitigasi kebijakan dari pemerintah pusat hingga daerah, terutama terkait keberlanjutan belanja pemerintah untuk kegiatan event dan pengadaan jasa pendukungnya.
Ia juga berharap belanja APBN dan APBD tetap mengakomodasi sektor ini dalam semester berikutnya agar ekosistem tidak semakin melemah.
“Ekonomi kita ini ekonomi ungkit. Banyak bergantung pada APBN dan APBD. Kalau tidak ada mitigasi kebijakan, ini bisa membahayakan ke depan,” katanya.
Sementara itu, Lukman Sadaya Ketua DPD Forum Backstagers Jawa Timur menilai, industri event tetap memiliki prospek positif jika didukung ruang kreativitas yang memadai.
Ia menegaskan bahwa setiap kegiatan event memiliki dampak ekonomi yang signifikan, bahkan dapat memberikan efek berlipat terhadap nilai pengeluaran yang dilakukan.
“Satu kali event itu dampaknya bisa sampai 2,5 kali lipat dari nilai yang dikeluarkan,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi saat ini justru harus menjadi dorongan bagi pelaku industri untuk semakin inovatif dalam menciptakan ide-ide baru di tengah keterbatasan.
“Jangan pernah takut untuk membuat event, karena dampaknya sangat besar. Satu event bisa memberikan efek ekonomi berlipat,” ujarnya. (saf/ham)
NOW ON AIR SSFM 100
