Jumat, 1 Mei 2026

Usai Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Korlantas Soroti Bahaya Perlintasan Sebidang dan Edukasi Kendaraan Listrik

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Brigjen Pol Faizal Dirgakkum Korlantas Polri saat menjadi pembicara dalam Dialektika Demokrasi di Komplek Parlemen Senayan Jakarta, Kamis (30/4/2026). Foto: Faiz Fadjarudin suarasurabaya.net

Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri menyoroti tingginya risiko kecelakaan di perlintasan sebidang pasca insiden tabrakan antara Kereta Api Argo Bromo Anggrek dan Kereta Rel Listrik (KRL) di Stasiun Bekasi Timur.

Brigjen Pol Faizal Direktur Penegakan Hukum (Dirgakkum) Korlantas Polri menegaskan bahwa peristiwa tersebut harus menjadi pelajaran bersama agar kejadian serupa tidak terulang.

“Kami dari Korlantas menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas kejadian ini. Semoga para korban yang meninggal mendapat tempat terbaik dan yang luka segera diberikan kesembuhan,” ujar Faizal dalam Dialektika Demokrasi di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (30/4/2026).

Ia mengungkapkan bahwa kecelakaan di perlintasan sebidang masih cukup tinggi. Berdasarkan data yang dihimpun, pada 2025 tercatat sekitar 66 kejadian dengan 55 korban meninggal dunia. Sementara hingga awal 2026, sudah terjadi 25 insiden serupa.

“Ini menunjukkan bahwa perlintasan sebidang, baik yang berpalang maupun tidak, masih menjadi titik rawan kecelakaan. Kita berharap kejadian ini menjadi yang terakhir,” katanya.

Faizal menjelaskan, dalam insiden di Bekasi Timur terdapat dua lokasi kejadian perkara (TKP). Pertama, melibatkan kendaraan taksi listrik dengan kereta, dan kedua tabrakan antara KRL dan KA Argo Bromo Anggrek.

Penanganan kasus ini melibatkan jajaran Polda Metro Jaya dengan dukungan tim dari Korlantas.

“Kami menurunkan tim Traffic Accident Analysis untuk membantu olah TKP dan memberikan gambaran yang jelas terkait kronologi serta penyebab kecelakaan,” jelasnya.

Salah satu sorotan utama Korlantas adalah keterlibatan kendaraan listrik dalam insiden awal. Menurut Faizal, masih banyak pengemudi yang belum memahami prosedur darurat ketika kendaraan listrik mengalami gangguan di tengah perlintasan rel.

“Berbeda dengan kendaraan manual yang bisa didorong saat netral, kendaraan listrik memiliki prosedur khusus. Ini yang perlu dipahami oleh pengemudi,” ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa pihaknya akan segera memanggil para operator taksi dan pemilik armada kendaraan listrik untuk diberikan edukasi dan pelatihan terkait penanganan kondisi darurat.

“Minggu depan kami akan kumpulkan para pengusaha taksi, khususnya yang menggunakan kendaraan listrik, untuk diberikan edukasi. Pengemudi harus tahu apa yang harus dilakukan jika kendaraan berhenti di rel kereta,” tegas Faizal.

Selain itu, ia juga menyoroti perilaku pengguna jalan yang masih kerap mengabaikan keselamatan, seperti menerobos palang pintu kereta atau mempercepat kendaraan saat sinyal peringatan berbunyi.

“Sering kali ketika alarm berbunyi, bukannya berhenti justru ditambah gas. Ini perilaku yang sangat berbahaya dan harus diubah,” katanya.

Faizal menegaskan bahwa edukasi kepada masyarakat menjadi kunci utama untuk menekan angka kecelakaan, selain perbaikan infrastruktur dan sistem pengamanan di perlintasan.

“Kesadaran saja tidak cukup, harus diikuti dengan kepatuhan. Kita harus disiplin meskipun tidak ada petugas,” ujarnya.

Korlantas juga menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap perlintasan sebidang di berbagai daerah, tidak hanya di wilayah Jakarta. Menurutnya, banyak perlintasan yang muncul secara tidak resmi akibat perkembangan permukiman.

“Ini bukan hanya masalah di Jakarta. Di daerah lain seperti Sumatera dan Sulawesi juga banyak perlintasan liar yang sangat berbahaya,” ungkapnya.

Dalam penanganan korban, Faizal mengapresiasi kerja cepat tim gabungan yang memanfaatkan golden period untuk menyelamatkan korban kecelakaan.

“Penanganan cepat sangat penting untuk mengurangi fatalitas. Kami mengapresiasi semua pihak yang terlibat dalam proses evakuasi dan pertolongan,” katanya.

Faizal mengingatkan bahwa keselamatan di jalan dan perlintasan kereta merupakan tanggung jawab bersama.

“Ini pekerjaan kita semua. Jangan sampai kejadian seperti ini terus berulang. Edukasi, disiplin, dan kepatuhan adalah kunci utama,” pungkasnya.(faz/ham)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Gudang di Jalan Jawar Surabaya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Jumat, 1 Mei 2026
26o
Kurs