Selasa, 5 Mei 2026

Radio Simulacra : Membayangkan Radio Suara Surabaya dalam Visi yang “Ugal-Ugalan”

Laporan oleh Eddy Prastyo
Bagikan
Ilustrasi. Radio Simulacra : Membayangkan Radio Suara Surabaya dalam Visi yang "Ugal-Ugalan"

Masa depan Radio Suara Surabaya mungkin bukan lagi sekadar soal bagaimana dia bersuara, tapi tentang siapa yang paling sungguh-sungguh mendengar.

Dulu, radio bekerja dengan cara sederhana. Ada studio, penyiar, pemancar, program, iklan, lalu pendengar. Informasi mengalir dari ruang siaran ke banyak orang. Model bisnis yang melulu soal iklan atau event.

Sejak lama Suara Surabaya paham situasinya tidak sesederhana itu di sekarang. Apalagi di masa depan.

Publik tidak hanya mendengar, mereka juga bersuara lewat telepon, mengirim WhatsApp, menulis komentar, mengunggah video, ikut polling, melapor, mengeluh, marah, bertanya, dan berharap.

Kota juga tidak lagi hanya bisa dibaca dari jalan, kantor, pasar, sekolah, atau kampung. Kota juga bisa dibaca dari suara-suara warga yang berserakan di banyak ruang digital.

Nilai terbesar radio adalah relasi yang membuat warga mau menelepon, melapor, dan bercerita.

Dari situlah saya membayangkan secara “ugal-ugalan” gagasan Radio Simulacra di Suara Surabaya.

Istilah ini meminjam gagasan Jean Baudrillard tentang simulacra dan hyper reality. Dalam hidup hari ini, kita sering tidak langsung bertemu kenyataan. Kita bertemu potongan video, komentar, trending topic, framing, dan algoritma.

Kadang kita baru melihat video 20 detik, tapi sudah merasa tahu seluruh kejadian. Baru melihat ramai di media sosial, tapi langsung mengira itulah suara mayoritas.

Padahal belum tentu. Realitas sering tertutup oleh lapisan persepsi yang bergerak sangat cepat.

Di tengah dunia seperti itu, radio tidak boleh ikutan berisik. Radio justru perlu menjadi ruang yang membantu publik membaca ulang dan memaknai keadaan.

Radio Simulacra adalah radio yang sadar bahwa suara publik hari ini datang dari banyak arah. Semua itu memang belum tentu kebenaran utuh. Tapi sejatinya, itu semua adalah jejak sosial.

Jejak itu perlu didengar. Tapi tidak boleh langsung ditelan mentah-mentah. Ia harus dikurasi, dicek, diberi konteks dan makna. Pendekatannya jurnalistik. Dibacanya dengan data, akal sehat, dan rasa kemanusiaan.

Di sini AI bisa membantu. AI bisa membaca ribuan pesan, mengelompokkan isu, menangkap pola dan sentimen. Memberi tanda ketika sebuah masalah mulai membesar.

Tapi AI tidak boleh menjadi penentu akhir. AI bisa membaca pola, tapi belum tentu memahami luka. AI bisa menghitung sentimen, tapi belum tentu mengerti martabat manusia. AI bisa cepat, tapi tidak otomatis bijak. Karena itu, manusia tetap pusatnya.

Gatekeeper bukan sekadar operator. Ia penjaga suara publik. Penyiar bukan sekadar suara di udara. Ia penjaga kedekatan. Redaksi bukan sekadar pembuat berita. Ia penjaga akal sehat.

Pada tahap berikutnya, Radio Simulacra juga bisa jadi teman. Bukan teman yang palsu yang menggantikan manusia. Tapi teman digital yang lahir dari karakter radio yang sudah dipercaya.

Bayangkan aplikasi radio yang tidak hanya memutar siaran. Ia bisa diajak bicara secara one on one dan personal. Bisa menjawab pertanyaan dan menerima laporan warga. Merangkum isu kota tapi juga bisa membantu mencari informasi. Bisa menemani orang di jalan, di rumah, atau pada malam ketika seseorang hanya butuh suara yang akrab.

Di sini suara penyiar punya nilai baru.

Misalnya suara AI Restu Indah penyiar Suara Surabaya yang hadir sebagai salah satu fitur di aplikasi Suara Surabaya Mobile. Ini bukan untuk menggantikan Restu sebagai manusia. Tapi untuk memperluas rasa yang selama ini melekat pada penyiar: akrab, responsif, spontan, memahami konteks lokal, dan tidak kaku. Kalaupun mau mendengar suara Restu yang otentik, pendengar bisa mengaksesnya di fitur radio streaming atau visual radio dalam aplikasi yang sama.

Dalam Radio Simulacra, penyiar tidak hanya hadir pada jam siaran. Ia bisa menjadi sumber karakter bagi sistem. Caranya menyapa, menenangkan, tidak menghakimi, dan membuat warga merasa suaranya penting.

Karena itu, teknologi tidak harus merampas penyiar. Teknologi justru bisa memperpanjang daya hidupnya. Penyiar bisa berbagi nilai melalui lisensi suara, persona AI, gaya komunikasi, dan standar interaksi yang tetap manusiawi.

Tapi etikanya harus jelas. Publik harus tahu kapan berbicara dengan AI dan kapan dengan manusia. Suara penyiar tidak boleh dipakai tanpa izin. Penyiar harus mendapat posisi yang adil, bukan hanya sebagai sumber suara, tapi sebagai pemilik karakter dan nilai.

Sebab makin akrab suara AI, makin tipis batas antara kehadiran dan tiruan. Di situlah risikonya. Kedekatan digital tidak boleh berubah menjadi manipulasi emosional.

Aplikasi bersuara AI penyiar harus menjadi pintu layanan. Bukan perangkap ketergantungan. Ia membantu warga mengakses informasi, melapor, memahami isu, dan merasa ditemani secara wajar.

Di sinilah konsep Trust-Based Media Ecosystem menemukan tempatnya.

Media lokal yang kuat tidak hanya hidup dari jumlah pendengar. Ia hidup dari kepercayaan. Tumbuh dari konsistensi, akurasi, empati, keberanian, dan tanggung jawab. Dari kepercayaan itu tumbuhlah dampak dan pengaruh sebagai pijakan di ekosistem tumbuh kembangnya media.

Di sini kemudian lahir nilai baru. Bukan sekadar data mentah, tpi insight.

Tentang apa yang paling sering dikeluhkan warga, wilayah mana yang mulai gelisah. Layanan publik apa yang paling banyak dipersoalkan. Isu apa yang tampak kecil, tapi bisa menjadi krisis. Kebijakan apa yang diterima publik atau bagian mana yang ditolak diam-diam.

Bagi pemerintah, ini bisa menjadi peringatan dini.

Buat pebisnis, ini bisa berguna sebagai peta persepsi konsumen.

Bagi kampus, ini bisa menjadi bahan riset sosial.

Bagi media, ini bisa menjadi model hidup baru.

Bagi warga, ini menjadi bukti bahwa suara mereka tidak berhenti sebagai keluhan yang lewat.

Tapi pagar etiknya, sekali lagi, harus tetap jelas. Yang dijual bukan data pribadi. Yang ditawarkan adalah insight yang sudah dianonimkan, dikurasi, dicek, dan ditafsirkan secara bertanggung jawab sebagai pengetahuan berbasis social listening.

Radio Simulacra juga tetap harus rendah hati. Data tidak pernah mewakili seluruh kenyataan karena tidak semua orang bersuara. Tidak semua juga yang ramai itu penting. Karena itu, Radio Simulacra tidak boleh merasa menjadi dewa digital yang paling tahu seisi kota.

Ia hanya refleksi. Cermin yang dibuat lebih luas oleh teknologi dan lebih jernih oleh data. Mungkin di situlah masa depan radio Suara Surabaya bisa ditemukan.

Bukan dengan mempertahankan bentuk lamanya mati-matian. Tapi tidak juga menyerahkan seluruh jiwa kepada teknologi. Esensinya sesederhana membawa roh terbaik radio, yaitu kedekatan, kepercayaan, dan kemampuan mendengar, ke dalam tubuh baru yang lebih sesuai zaman.

Tubuh itu bernama ekosistem, darahnya adalah data. Sarafnya adalah AI, jantungnya adalah trust. Napasnya tetap suara manusia.

Dulu, radio membuat kota bisa mendengar.

Besok, Radio Simulacra mungkin membuat kota bisa memahami dirinya sendiri.

Eddy Prastyo | Editor in Chief | Suara Surabaya Media

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Gudang di Jalan Jawar Surabaya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Selasa, 5 Mei 2026
29o
Kurs