Fasilitas minyak dan gas di Iran yang sempat rusak imbas serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel, mulau dipulihkan kembali.
Melansir Antara, menurut Iran Mohsen Paknejad Menteri Perminyakan Iran, perang yang berlangsung selama 40 hari telah merusak fasilitas minyak dan gas.
“Prioritas utama kami adalah memulihkannya secepat mungkin, dan hingga kini proses berjalan dengan baik,” katanya, Kamis (7/5/2026).
Sementara, Saeed Tavakoli Direktur Perusahaan Gas Nasional Iran menambahkan bahwa empat stasiun pemrosesan gas di ladang South Pars turut mengalami kerusakan selama konflik dengan AS dan Israel.
Pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran yang menimbulkan kerusakan dan korban sipil. Kemudian pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan.
Namun, pembicaraan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan, sehingga Donald Trump Presiden AS memperpanjang penghentian pertempuran untuk memberi waktu bagi Iran menyusun “proposal terpadu.”
Ketegangan tersebut hampir menghentikan lalu lintas di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, yang mendorong kenaikan harga energi.
Pada Minggu malam, Trump mengumumkan operasi Project Freedom untuk membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz agar dapat keluar.
Namun, pada Selasa, ia menyatakan akan menunda operasi tersebut sementara waktu untuk melihat kemungkinan tercapainya kesepakatan damai dengan Iran.(ant/kir/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100

