Kamis, 7 Mei 2026

Menko Perekonomian Sebut Kawasan Asia Tenggara Perlu Antisipasi Dampak Konflik Global

Laporan oleh Lea Citra Santi Baneza
Bagikan
Airlangga Hartarto Menteri Koordinator Bidang Perekonomian pada Pertemuan ke-27 ASEAN Economic Community Council (AECC) di Dusit Thai, Cebu, Filipina. Foto Biro Komunikasi Kemenko Perekonomian

Airlangga Hartarto Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menyebut kawasan Asia Tenggara harus mengantisipasi dampak konflik Iran dengan AS dan Israel, yang menyebabkan dampak beruntun krisis energi, hingga lonjakan harga-harga komoditas dan pangan di kawasan ASEAN.

Katanya untuk pertama kalinya setelah pandemi, kinerja perekonomian ASEAN menghadapi risiko perlambatan akibat konflik global.

“Pertemuan ke-27 ASEAN Economic Community Council (AECC) atau Dewan Masyarakat Ekonomi ASEAN digelar di Dusit Thai, Cebu, Filipina pada tanggal 7 Mei 2026. Filipina selaku Ketua ASEAN tahun 2026 ini, melalui pertemuan ini merespons dampak konflik dan perang di Selat Hormuz ke negara-negara ASEAN,” kata Airlangga, Kamis (7/5/2026).

Maria Cristina Aldeguer-Roque Menteri Perdagangan dan Industri Filipina meminta pandangan para Menteri Ekonomi ASEAN untuk mengatasi dampak perang, yang menyebabkan hambatan ketersediaan energi dan produk berbahan dasar minyak mentah di kawasan ASEAN.

Sementara itu Dong He Kepala ekonomi ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) memaparkan memaparkan risiko kebijakan domestik AS yang menyebabkan disrupsi suplai energi dan pestisida ke kawasan, yang menyebabkan kenaikan harga energi dan transportasi, serta depresiasi nilai tukar.

Katanya kenaikan ini memicu lonjakan inflasi di kawasan ASEAN hingga level tertinggi sejak pandemi.

Di mana mengindikasikan ASEAN menghadapi tekanan stagflationary atau pertumbuhan ekonomi yang stagnan terkuat sejak 2011. Untuk itu. Kawasan ASEAN disarankan membuat kebijakan mengatasi gejolak tersebut.

Sementara Airlangga Hartarto memandang langkah kongkrit dan penguatan ketahanan regional untuk mengatasi disrupsi akibat dampak perang dan konflik global penting diambil.

“Untuk mengatasi disrupsi, diperlukan ketahanan energi, optimalisasi platform kerja sama yang ada, dan fokus pada penguatan perdagangan antar anggota ASEAN dengan mitra strategis, seperti ASEAN Plus One FTAs dan the Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) serta memanfaatkan kerjasama ketahanan energi seperti ASEAN Power Grid (APG) and ASEAN Framework Agreement on Petroleum Security (APSA),” tutur Airlangga.

Selain itu, pemanfaatan kekuatan sentralitas ASEAN diperlukan untuk membangun supply chain resilience di Kawasan. Airlangga juga menekankan ASEAN harus menghadapi dinamika perdagangan global dengan mendorong penguatan kerja sama regional khususnya pada sektor energi, pangan, dan rantai pasok untuk menjaga stabilitas ekonomi.

“Juga mendorong langkah konkret untuk memperkuat ketahanan energi kawasan, antara lain melalui diversifikasi sumber dan jalur pasokan, penguatan mekanisme cadangan energi, serta percepatan implementasi kerja sama regional. Diversifikasi mitra-dagang dengan memanfaatkan jaringan FTA dan kerja sama yang telah ada, dengan tetap fokus pada peningkatan perdagangan intra-ASEAN sebagai prioritas utama,” katanya.(lea/kir/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Gudang di Jalan Jawar Surabaya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Kamis, 7 Mei 2026
33o
Kurs