Senin, 11 Mei 2026

Selain Paparan UV Berlebihan, Stres karena Putus Cinta hingga Tekanan Kerja Bisa Picu Lupus Kambuh

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Ilustrasi orang dengan lupus Ilustrasi orang dengan lupus. Foto: freepik.com

Paparan sinar ultraviolet (UV) berlebihan bukan satu-satunya pemicu penyakit lupus kambuh. Menurut imunolog, kondisi stres psikis yang disebabkan mulai putus cinta, tekanan pekerjaan, hingga beban akademik juga dapat memicu flare atau kekambuhan pada penyandang penyakit autoimun tersebut.

Hal itu diungkapkan dr. Ari Baskoro, Konsultan Bidang Imunologi FK Unair Surabaya, saat mengudara di program Wawasan Suara Surabaya, Senin (11/5/2026), yang mengangkat tema peringatan Hari Lupus Sedunia.

Hari Lupus Sedunia diperingati setiap tanggal 10 Mei dan tema tahun ini adalah Make Lupus Visible atau ‘jadikan Lupus terlihat’.

Menurutnya, faktor psikologis memiliki hubungan erat dengan sistem saraf dan sistem kekebalan tubuh. Karenanya, tekanan mental sering kali memicu munculnya gejala atau kekambuhan lupus.

“Penyakit-penyakit lupus ini ya, seringkali kambuh itu kalau pada cewek, klasik itu. Biasanya apa? Kalau masih muda ya, biasanya baru putus pacar gitu. Putus pacar dan urusan percintaan ini, ditegur atasannya, apalagi kalau kena PHK. Kalau mahasiswa ya biasanya kalau menghadapi ujian,” jelas dr. Ari Baskoro.

Imunolog FK Unair itu mengungkapkan, kondisi mental yang tertekan dapat memicu perubahan hormon yang akhirnya membuat sistem imun menjadi terlalu aktif dan bahkan menyerang tubuh sendiri.

Selain sulit dipahami masyarakat awam, dr. Ari menjelaskan lupus juga dikenal di dunia medis sebagai “The Great Imitator” atau peniru ulung. Sebab, gejalanya sering menyerupai penyakit lain mulai meriang/demam, sehingga diagnosis dini kerap terlambat dilakukan.

“Ngapain kok disebut 1000 wajah? Karena memang bisa meniru penyakit-penyakit lain ya. Kalau di dalam cerita Ramayana itu ada Dasamuka (Rahwana). Jadi ya mirip ini, mirip itu, mirip ini. Ada juga yang memberi istilah the great imitator ya. Peniru ulung. Jadi seringkali sulit didiagnosis pada fase dini misalnya greges (meriang) aja, demam aja. Loh kok langsung bolak-balik ya. Maka seringkali awal-awal itu dikira oh, ini penyakit infeksi, khususnya tipes misalnya begitu,” paparnya.

Ada sejumlah gejala khas lupus yang perlu diwaspadai masyarakat. Salah satunya adalah kondisi tubuh terasa sangat pegal dan kaku saat pagi hari, seperti habis dipukul, namun perlahan membaik setelah beraktivitas.

Selain itu, sariawan berulang yang tidak kunjung sembuh, rambut rontok berlebihan, hingga ruam kemerahan di pipi berbentuk menyerupai kupu-kupu juga menjadi tanda umum lupus.

“Jadi kadang keluhannya cuma itu aja, sariawan rambutnya rontok rontok ya gitu. Nah nanti lebih khas kalau sudah ada namanya bercak kupu-kupu itu,” ucapnya.

Pada kesempatan itu, ia mengungkapkan bahwa dari sisi epidemiologi, lupus jauh lebih banyak menyerang perempuan dibanding laki-laki. Perbandingannya bahkan bisa mencapai 10 banding 1.

“Data epidemiologi menyatakan begitu. Jadi kalau dihitung-hitung sembilan sampai 10 banding satu. Jadi artinya perempuan 10 atau 9 sampai 10. Laki-laki hanya satu,” tuturnya.

Selain faktor hormon dan genetik, paparan sinar ultraviolet (UV) juga disebut menjadi ancaman serius bagi penyandang lupus. Karena itu, dr. Ari menyarankan pasien lupus menghindari paparan matahari langsung, terutama di tengah cuaca panas ekstrem.

Ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi penyandang lupus di lingkungan kerja. Karena gejalanya tidak selalu terlihat secara fisik, banyak penderita dianggap sehat padahal mengalami kelelahan kronis dan gangguan kesehatan serius. Kondisi ini disebut sebagai silent disability.

“Ini kalau saya sebut memicu silent disability. Artinya begini, pasiennya itu memang nampak ya seperti bangunan lah. Yang dari depan itu wah ini bangunannya baik enggak ada apa-apa. Tapi kalau setelah secara internal dia ini banyak mengeluh. Seringkali kita sebut kelelahan kronis. Memang mudah lelah, kadang sulit tidur, tidak bisa recover cepat begitu,” ungkapnya.

Meski lupus belum bisa disembuhkan total, dr. Ari menegaskan penyakit ini tetap dapat dikendalikan. Dengan pengobatan rutin dan kontrol yang baik, penyandang lupus bisa mencapai fase remisi dan menjalani aktivitas normal dalam jangka panjang.

“Kalau sembuh itu kan benar-benar artinya dia tanpa keluhan ya, tanpa gejala dan tanpa obat itu disebut sembuh. Tetapi pada kondisi lupus ini autoimun ya secara umum ya, itu kita tidak mengenal istilah cure ya atau sembuh benar ya. Tetapi istilah kita remisi,itu artinya dia bebas gejala bisa tetapi harus dikendalikan,” pungkasnya. (bil/ham)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Gudang di Jalan Jawar Surabaya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Senin, 11 Mei 2026
33o
Kurs