dr. Budi Wiweko Ketua Umum Pengurus Pusat Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) mengatakan konsumsi protein daging merah sebelum perawatan fertilitas dapat meningkatkan kualitas embrio.
Ia menjelaskan, pasien yang sedang dalam program hamil dengan metode terbarukan, setidaknya mengonsumsi daging merah dalam kurun waktu dua minggu atau dua bulan sebelum perawatan fertilitas agar manfaat tersebut dapat diklaim oleh tubuh.
“Protein itu sangat dibutuhkan. Kalau di dalam Fertilisasi in vitro, mineral dan zinc itu sangat penting untuk pembuahan, kalsium sangat penting,” kata Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.OG, Subsp.F.E.R., MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM Ketua Umum Pengurus Pusat POGI di Jakarta pada Selasa (26/5/2026).
dr Budi menekankan bahwa nutrisi berperan penting dalam proses program hamil karena dapat meningkatkan kualitas sel telur dan juga sel sperma sebelum pembuahan dengan metode terbantukan.
Adapun jika terjadi kegagalan dalam proses pembuahan, biasanya dokter pun akan meminta pasien agar meningkatkan konsumsi protein, kalsium, zinc, dan mineral sesuai dengan kondisi pasien.
“Jadi jelas nutrisi itu akan mempengaruhi kualitas sperma maupun kualitas sel telur, ada pasien-pasien yang obesitas, ada pasien-pasien yang terlalu langsing itu tidak terlalu baik untuk kualitas sel telurnya,” katanya.
Sementara itu, Dr. dr. Gita Pratama, Sp. OG, Subsp. F.E.R, M. Rep. Sc Dokter spesialis kandungan subspesialis fertilitas, menjelaskan bahwa daging merah merupakan asupan sumber protein yang bagus, tetapi dengan porsi yang dibutuhkan tubuh atau tidak berlebihan.
Pasalnya, pada kasus tertentu, pasien endometriosis memiliki kecenderungan untuk mengalami peningkatan faktor inflamasi jika memakan daging merah terlalu banyak. Pasien dengan kondisi ini dianjurkan untuk menyeimbangkan konsumsi daging merah dengan sumber protein hewani lain serta protein nabati seperti tempe dan tahu.
Selain itu, pasien yang tengah menjalankan program hamil, juga harus memenuhi kebutuhan serat guna mencegah inflamasi. Gita turut menyarankan untuk mengurangi asupan karbohidrat dan makanan tinggi kalori.
“Fiber sangat penting. Kenapa? Karena jika kurang biasanya akan terjadi abnormalitas pada usus pada seorang perempuan yang biasanya nantinya akan meningkatkan faktor zat inflamasi, dan itu akan menyebabkan kualitas dari sel telur atau kalau misalnya laki-laki ya sperma juga akan turun sekali,” kata Gita.
Sebagai tambahan, pengolahan daging juga sebaiknya tidak dibakar atau digoreng kering agar kualitas DNA untuk pembuahan tidak terpecah-pecah.(ant/mar/ham)

NOW ON AIR SSFM 100

