Nilai tukar rupiah dibuka melemah hingga menyentuh angka, Rp18.165 per dolar AS, pada Senin (8/6/2026) siang, seperti dipantau dari laman Google Finance pukul 10.57 WIB, setelah pekan lalu ditutup di angka Rp18.095 per dolar AS.
Terkait hal ini, Lukman Leong Analis mata uang Doo Financial Futures mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi eskalasi baru di Timur Tengah (Timteng)
“Harga minyak yang kembali naik oleh eskalasi baru di Timteng juga ikut menekan rupiah,” ujarnya seperti dilansir Antara, Senin.

Mengutip Sputnik, Iran diketahui menembakkan sejumlah rudal ke Israel utara pada, Minggu (6/7/2026) malam. Serangan itu terjadi beberapa jam setelah Iran mengancam akan membalas serangan udara Israel di pinggiran kota Beirut baru-baru ini.
Kantor Perdana Menteri Israel sebelumnya mengatakan tentara Israel menyerang pinggiran kota Beirut selatan di Lebanon untuk membalas penembakan yang dilakukan kelompok Hizbullah.
Menurut Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA), serangan udara Israel menghantam dua apartemen di kawasan permukiman tanpa adanya laporan korban jiwa.
Serangan Hizbullah sendiri dipicu Zionis Israel yang terus menyerang puluhan permukiman di Lebanon selatan setiap hari, dan mempertahankan kendali tembakan atas sejumlah permukiman di perbatasan. Akibatnya, Hizbullah pun melakukan operasi militer terhadap pasukan penjajah Israel.
Lukman menambahkan, sentimen lain berasal dari rilis data pekerjaan AS Non-Farm Payrolls (NFP) yang lebih baik dari perkiraan.
“Penambahan pekerjaan dari sektor pemerintah 55 ribu pekerjaan, rekreasi dan perhotelan 70 ribu pekerjaan menjelang Piala Dunia,” ungkap Lukman.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diperkirakan ditutup di kisaran Rp18 ribu-Rp18.150 per dolar AS. (ant/bil/ham)
NOW ON AIR SSFM 100

