Jumat, 12 Juni 2026

BI Klaim Kenaikan Suku Bunga Direspon Positif Investor

Laporan oleh Lea Citra Santi Baneza
Bagikan
Ilustrasi logo Bank Indonesia (BI) yang tampak di kantor pusat BI di Jakarta. Foto: Reuters

Bank Indonesia (BI) mengklaim kenaikan BI-Rate menjadi 5,5 persen serta penguatan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN), mendapat respon positif dari investor asing.

Ramdan Denny Prakoso Kepala Departemen Komunikasi BI menyebut terjadi peningkatan aliran masuk modal asing ke instrumen SRBI pasca lelang SRBI pada 10 Juni 2026.

“Aliran masuk modal asing juga mulai kembali terjadi di pasar SBN, terutama pada tenor pendek dan menengah. Sejalan dengan perkembangan tersebut, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami penguatan dan kembali berada di bawah level Rp18.000 per dolar AS,” katanya di Jakarta, Jumat (12/6/2026).

Ke depan, BI akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik. Kemudian, menjaga daya tarik instrumen keuangan domestik guna mendukung aliran masuk modal asing.

“Bank Indonesia juga akan terus mengoptimalkan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar Rupiah melalui intervensi NDF di pasar offshore serta transaksi spot dan DNDF di pasar domestik secara konsisten dan terukur,” pungkanya.

Sebelumnya Bank Indonesia mengakui pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terjadi lebih dalam dibandingkan proyeksi yang sebelumnya telah disusun. Kondisi itu mendorong bank sentral menyiapkan serangkaian langkah lanjutan untuk memperkuat stabilitas kurs, dan menjaga kepercayaan investor.

“Dalam berbagai evaluasi hari ini, kita melihat loh kok pelemahan rupiah melebih yang kita proyeksikan dulu. Dan karenanya tadi judulnya adalah langkah-langkah kebijakan lanjutan untuk penguatan stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Perry Warjiyo Gubernur Bank Indonesia (BI) di kompleks DPR RI, Selasa (9/6/2026) lalu.

Perry mengatakan, keputusannya menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 bps menjadi 5,5 persen dengan harapan rupiah akan semakin stabil ke depan.

“Tentu saja agar proyeksi inflasi ke depan. Tahun ini dan tahun ke depan, seperti tadi disampaikan, tetap 2,5 plus minus 1 persen. Sekaligus kenaikan BI-Rate ini untuk menarik, maksudnya investasi portofolio asing,” ungkapnya.

Menurut Perry, salah satu penyebab rupiah melemah adalah terjadi outflow dalam investasi portofolio. Sehingga, instrumen SRBI juga dinaikkan. Ia berharap langkah ini bisa mendorong penguatan rupiah kedepannya, dan inflasi terjaga.(lea/bil/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Pelangi Diujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Gerbang King Abdulaziz Masjidil Haram

Surabaya
Jumat, 12 Juni 2026
28o
Kurs