Rabu, 1 Februari 2023

Indonesia Siap Membawa ASEAN Terhindar dari Krisis Pangan

Laporan oleh Farid Kusuma
Bagikan
Jokowi Presiden RI mengikuti KTT ASEAN. Foto: Biro Pers Setpres

Airlangga Hartarto Menteri Koordinator bidang Perekonomian menegaskan Indonesia sangat siap menerima estafet tanggung jawab sebagai Ketua ASEAN 2023 dari Kamboja.

“Melanjutkan Presidensi G20, Keketuaan Indonesia di ASEAN akan menitikberatkan pada penangan krisis multidimensi seperti krisis pangan, energi, dan keuangan,” ujarnya di Jakarta, Kamis (10/11/2022).

Sugiyono Madelan Ibrahim Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyebut, persoalan pangan sangat krusial bagi setiap negara.

Dia bilang, sebelumnya sudah ada perubahan produksi dan perdagangan pangan global yang lebih baik. Tapi, kondisi berubah begitu ada ancaman krisis pangan global akibat perang Ukraina-Rusia.

“Ketika terjadi perang Ukraina, Indonesia dan negara lain banyak yang impor gandum. Harganya naik karena jumlah gandum berkurang. Itu masalahnya yang membuat harga pangan melambung tinggi,” ucapnya di Jakarta, Jumat (11/11/2022).

Dosen Universitas Mercu Buana itu melanjutkan, keketuaan Indonesia di ASEAN bisa memitigasi krisis pangan supaya tidak berdampak serius ke negara ASEAN.

Sugiyono yakin Indonesia bisa mengupayakan jalur distribusi pangan yang tidak memberatkan.

“Jadi, peran Indonesia sebagai ketua paling tidak bisa mengatur negara ASEAN tidak selalu mengedepankan perdagangan. Paling tidak membantu pinjam-meminjam pada waktu terjadi krisis pangan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Sugiyono melihat ada kecenderungan setiap negara menahan keluarnya pangan dengan memberlakukan kebijakan proteksi, demi menjaga kecukupan pangan dalam negeri masing-masing.

Maka dari itu, Indonesia diharapkan mampu memainkan peran mengatur sebaran pangan. Sehingga, tidak terjadi kelangkaan pangan di ASEAN.

“Indonesia bisa bermain di situ karena punya kemampuan dan pengalaman. Beberapa negara kalau mengandalkan perdagangan saja bisa tidak jalan, dan bisa bahaya karena harga tinggi,” tegasnya.

Sementara itu, Riza Noer Arfani Pakar Perdagangan Ekonomi Dunia dan Politik Internasional UGM mengatakan, fundamental perekonomian negara-negara di ASEAN cukup tangguh menghadapi potensi resesi di 2023.

“Secara umum memang negara ASEAN relatif terbebas dari ancaman resesi. Itu terlihat dengan cepatnya proses recovery ekonomi yang mereka lakukan sejak pandemi Covid-19, dan pertumbuhan ekonomi yang rata-rata rata positif. Kemudian, dilihat dari tingkat inflasi yang terkendali,” sebutnya.

Walau relatif aman, dia mengingatkan potensi dampak negatif dari negara-negara yang mengalami resesi atau perlambatan ekonomi.

“Sejumlah negara ASEAN masih mengandalkan pasar yang konvensional dengan Amerika Serikat, Eropa bahkan Jepang. Pasar konvensional kemungkinan besar akan mengalami resesi tahun depan. Kalau Indonesia bisa mendiversifikasi pasar, maka akan lumayan aman. Artinya, pasar non konvensional perlu digenjot,” paparnya.

Riza pun memprediksi China juga akan mengalami perlambatan ekonomi, dan sedikit banyak berpengaruh pada ekonomi ASEAN.

Untuk mengantisipasi masalah pangan, Riza mendorong negara-negara ASEAN bekerja sama mengamankan rantai pasok komoditas utama yaitu beras.

“Memang basis kita masih beras. Tapi, saya menyarankan kerja sama ASEAN untuk mengobrol rantai pasok, bukan cuma komoditas beras dan non beras,” tandasnya.(rid)

Berita Terkait