“Toba harus bergaul dengan destinasi yang selevel. Kita bisa membangun diplomasi Green Sister Geopark melalui jaringan parlemen dunia, misalnya dengan menjajaki kerja sama antara Kaldera Toba dengan Aso Geopark di Jepang atau Reykjanes di Islandia,” tutur Habib Aboe.
Menurutnya, kolaborasi lintas negara dapat menjadi kesempatan bagi Toba untuk mempelajari teknologi pengelolaan lingkungan, meningkatkan kualitas konservasi kawasan, serta memperkuat kompetensi pemandu wisata dalam melayani pengunjung internasional.
“Jangan hanya berpikir bagaimana mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya. Kita juga harus belajar bagaimana mengelola lingkungan, menjaga kelestarian alam, dan meningkatkan kualitas pelayanan. Kekuatan alam Toba akan semakin bernilai jika didukung pengalaman dan pengetahuan dari negara lain,” ujarnya.
Habib Aboe menegaskan bahwa diplomasi parlemen dapat menjadi pintu masuk bagi daerah untuk memperluas jejaring internasional dan membuka peluang pembangunan baru.
Meski demikian, implementasi gagasan tersebut membutuhkan komitmen pemerintah daerah, pelaku usaha, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan.
“BKSAP bisa membantu membuka pintu kerja sama internasional, tetapi keberhasilannya membutuhkan kesiapan dan keseriusan pemerintah daerah serta seluruh pihak terkait. Diplomasi harus bisa diterjemahkan menjadi peluang nyata bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Toba,” pungkasnya.(faz/ham)
NOW ON AIR SSFM 100

