Selain persoalan kelembagaan, Tripitono menyoroti tingginya risiko bisnis yang harus ditanggung kopdes. Berdasarkan perhitungan kasarnya, koperasi yang menerima pinjaman Rp3 miliar dengan tenor enam tahun harus membayar cicilan sekitar Rp49,7 juta setiap bulan.
Dengan asumsi margin keuntungan sepuluh persen, kopdes harus membukukan omzet sekitar Rp497 juta per bulan atau sekitar Rp16,57 juta per hari. Sementara itu, ia menemukan informasi adanya koperasi yang pendapatannya baru mencapai sekitar Rp100 ribu per hari.
“Pada bulan pertama, koperasi sudah harus mengejar omzet hampir Rp500 juta. Risiko dari desain bisnis seperti ini relatif tinggi,” tuturnya.
Kendala lain juga muncul dari pemilihan lokasi usaha yang dinilai belum mempertimbangkan aspek strategis. Ia menyebut terdapat kopdes yang dibangun di samping kuburan, di tengah lahan kosong, serta lokasi lain yang kurang mendukung aktivitas jual beli. Keterlibatan masyarakat dalam proses pembentukannya juga dinilai masih terbatas.
Meski menilai desain kopdes masih memiliki banyak tantangan, Tripitono berharap program tersebut tetap berhasil. Ia menyebut keberhasilan Kopdes di Desa Wonokerto dapat menjadi rujukan bagi koperasi lain untuk mempelajari sistem pengelolaan dan strategi bisnisnya.

NOW ON AIR SSFM 100

