Ichsanuddin mengklaim cadangan devisa Indonesia mengalami penurunan dari sekitar US$154,6 miliar pada Januari 2026 menjadi US$145,3 miliar pada Juli 2026. Artinya, dalam tujuh bulan terjadi penurunan sekitar US$9,3 miliar.
“Artinya selama tujuh bulan cadangan tersebut terkuras US$9,3 miliar. Atau per bulannya kemampuan membayar utang dan impor berkurang US$1,3285 miliar,” ujarnya.
Ia juga mempertanyakan efektivitas instrumen moneter Bank Indonesia di tengah tekanan tersebut.
Ichsanuddin menyebut tingkat imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) berada pada kisaran 7,2 persen hingga 7,63 persen.
Menurutnya, kondisi itu menciptakan persaingan imbal hasil antara SRBI, Surat Berharga Negara (SBN), bunga simpanan perbankan, serta suku bunga kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve.

NOW ON AIR SSFM 100

