“Pada level ini terjadi persaingan suku bunga antara SRBI, SBN, bunga tabungan, dan bunga bank sentral AS (Fed fund rate). Pemilik modal pun lantas menoleh prosentase kejatuhan nilai tukar yang berkisar di atas 10 persen,” kata Ichsanuddin.
Ia menilai tekanan terhadap perekonomian semakin berat karena Indonesia masih bergantung pada pembiayaan utang sekaligus impor energi, bahan baku, bahan penolong, teknologi, dan berbagai jasa.
Ichsanuddin menyebut total utang Indonesia kini telah mencapai lebih dari Rp10.293 triliun. Kondisi tersebut, menurut dia, memperlihatkan bahwa persoalan ekonomi Indonesia tidak semata-mata berkaitan dengan siapa yang menduduki kursi Gubernur BI.
“Tak heran dari Singapura terbit berita ‘Indonesia Dijual’. Dari Belanda mencuat kabar ‘Indonesia Bankrut?’ (sovereign default),” ujarnya.
Karena itu, Ichsanuddin menilai pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia tidak akan otomatis memutus apa yang ia sebut sebagai “lingkaran setan” pelemahan rupiah dan tekanan ekonomi.

NOW ON AIR SSFM 100

