Senin, 10 Agustus 2026

Harga Daging Ayam Mulai Mendekati HAP, BPS Minta Pemda Perkuat Pengendalian

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi - Penjual daging ayam sedang menyiapkan pesanan pelanggan di Pasar Wonokromo Surabaya, Jumat (27/9/2024). Foto Dokumen suarasurabaya.net

Badan Pusat Statistik (BPS) meminta pemerintah daerah mewaspadai kenaikan harga daging ayam ras yang terjadi di sejumlah wilayah.

Meski harga rata-rata nasional masih berada sedikit di bawah harga acuan penjualan (HAP) konsumen, kenaikan harga tercatat cukup tinggi di berbagai kabupaten/kota.

Amalia Adininggar Widyasanti Kepala BPS mengatakan, harga rata-rata daging ayam ras secara nasional saat ini berada di kisaran Rp39.712 per kilogram. Angka tersebut masih sedikit di bawah HAP konsumen sebesar Rp40.000 per kilogram.

Namun, tren kenaikan harga perlu segera diantisipasi agar tidak terus berlanjut hingga melewati batas acuan pemerintah.

“Ini mungkin untuk perlu perhatian karena kalau nanti kenaikan harga ini terus dibiarkan, tentunya suatu saat nanti akan berada di atas HAP,” ujar Amalia dalam Rapat Koordinasi Inflasi Daerah di Jakarta, Senin (10/8/2026).

Dilansir dari Antara, berdasarkan pemantauan BPS, sebanyak 188 kabupaten/kota mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) untuk komoditas daging ayam ras.

Sejumlah daerah bahkan mencatat kenaikan yang cukup signifikan, disertai harga yang sudah berada di atas HAP.

Kabupaten Bangka Selatan menjadi salah satu daerah dengan kenaikan IPH daging ayam ras cukup tinggi, yakni 34,58 persen. Meski demikian, harga ayam di wilayah tersebut masih sekitar 3 persen di bawah HAP, atau sekitar Rp38.800 per kilogram.

Kondisi berbeda terjadi di Kota Binjai. IPH daging ayam ras di daerah tersebut naik 29,78 persen, sementara harganya telah mencapai sekitar Rp42.000 per kilogram atau 5 persen di atas HAP.

Kenaikan harga yang lebih tinggi terjadi di Kabupaten Kepahiang. IPH daging ayam ras di daerah tersebut meningkat 21,34 persen, sedangkan harga komoditasnya mencapai sekitar Rp48.000 per kilogram atau sekitar 20 persen di atas HAP.

BPS mencatat kenaikan harga tersebut tidak memiliki penyebab yang sama di setiap daerah. Faktor pasokan dan permintaan menjadi dua pemicu utama yang perlu diperhatikan pemerintah daerah.

Di Bangka Selatan, misalnya, kenaikan permintaan daging ayam berkaitan dengan berkurangnya pasokan ikan. Cuaca buruk berupa angin kencang dan gelombang tinggi membatasi aktivitas nelayan sehingga pasokan ikan menurun.

Kondisi itu kemudian mendorong masyarakat beralih mengonsumsi daging ayam sebagai sumber protein alternatif.

Sementara di Kota Binjai, kenaikan permintaan terjadi setelah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kembali beroperasi seiring berakhirnya masa libur sekolah. Peningkatan aktivitas tersebut turut mendorong kebutuhan daging ayam di pasar.

Di Kabupaten Labuhanbatu Selatan, persoalannya lebih berkaitan dengan sisi pasokan. Stok daging ayam ras di pasar terbatas ketika permintaan masyarakat meningkat sehingga mendorong harga naik.

Amalia menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah daerah, khususnya wilayah yang mengalami kenaikan harga signifikan. Pengendalian harga perlu dilakukan dengan melihat penyebab masing-masing daerah, baik dari sisi pasokan maupun permintaan.

“Ini catatan untuk mengendalikan harga. Karena di sebagian kota dan kabupaten memang ada keterbatasan pasokan dan juga di beberapa tempat memang sisi permintaannya sedang meningkat,” kata Amalia. (ant/saf/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Kecelakaan Mobil Terguling di Gunungsari Surabaya

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Kecelakaan Beruntun di Gempol, Libatkan 7 Kendaraan

Surabaya
Senin, 10 Agustus 2026
29o
Kurs