Selasa, 5 Mei 2026

IHSG Dibuka Melemah ke 6.968, Berpotensi Volatil Imbas Harga Minyak Global

Laporan oleh Iping Supingah
Bagikan
Ilustrasi - Pekerja memperlihatkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melalui gawainya di Jakarta. Foto: Antara

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (5/5/2026) pagi, dibuka melemah 3,38 poin atau 0,05 persen ke posisi 6.968,57 serta berpotensi bergerak volatil. Potensi ini didominasi oleh sentimen volatilitas harga minyak mentah di tingkat global.

Adapun kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 menurun hingga 0,80 poin atau 0,12 persen ke posisi 673,76.

“Sentimen global didominasi eskalasi konflik di Selat Hormuz setelah Iran meningkatkan serangan terhadap kapal dan fasilitas energi, termasuk kebakaran di pelabuhan minyak Uni Emirat Arab (UEA),” ujar Liza Camelia Suryanata Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia di Jakarta pada Selasa (5/5/2026).

Amerika Serikat (AS) dalam menanggapi perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah, melalui inisiatif Project Freedom untuk membuka jalur pelayaran dengan dukungan 15.000 personel militer dan lebih dari 100 pesawat.

Sementara itu, Iran memperingatkan bahwa setiap kekuatan asing yang memasuki selat akan diserang.

“Ketegangan kembali meningkat setelah gencatan senjata empat pekan lalu, sementara negosiasi damai masih buntu, terutama terkait isu nuklir,” ujar Liza.

Ditambah, kini harga minyak dunia melonjak dengan Brent di kisaran 113-114 dolar AS per barel dan WTI di kisaran 105-106 dolar AS per barel naik. Kenaikan ini dipicu oleh serangan Iran terhadap kapal dan fasilitas energi UEA serta gangguan jalur Selat Hormuz.

Melansir Antara, inflasi Indonesia terus melandai dengan Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) di level 2,42 persen pada April 2026. Sementara inflasi inti di level 2,44 persen, yang menunjukkan tekanan harga semakin terkendali.

Untuk neraca perdagangan tetap surplus 3,32 miliar dolar AS atau surplus 71 bulan berturut-turut), tetapi di bawah ekspektasi, dengan ekspor turun 3,1 persen (yoy). Sedangkan impor turun tajam ke 1,51 persen (yoy), yang mencerminkan lemahnya permintaan eksternal dan moderasi domestik.

“Secara fundamental, ekonomi Indonesia menunjukkan stabilitas harga namun dengan tanda perlambatan aktivitas, terlihat dari PMI manufaktur kembali kontraksi di 49,1, serta momentum pertumbuhan yang mulai melemah di tengah tekanan global,” ujar Liza.

Sebelumnya, pada perdagangan Senin (4/5/2026) kemarin, bursa saham Eropa kompak melemah, diantaranya Euro Stoxx 50 melemah 2,18 persen, indeks FTSE 100 Inggris melemah 0,14 persen, indeks DAX Jerman melemah 1,24 persen, serta indeks CAC melemah 1,71 persen.

Bursa saham AS di Wall Street juga kompak melemah pada Senin (04/05), diantaranya indeks Nasdaq Composite melemah 0,21 persen ke 27.651,82, indeks S&P 500 melemah 0,41 persen ke 7.200,75, dan indeks Dow Jones melemah 1,13 persen ke 48.941,90.

Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei menguat 228,20 poin atau 0,38 persen ke 59.513,12, indeks Hang Seng melemah 193,38 poin atau 0,74 persen ke posisi 25.902,50, indeks Shanghai menguat 4,64 poin atau 0,11 persen ke 4.112,16, dan indeks Strait Times melemah 14,77 poin atau 0,30 persen ke 4.909,54.(ant/mar/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Gudang di Jalan Jawar Surabaya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Selasa, 5 Mei 2026
33o
Kurs