Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) IHSG ditutup melemah pada perdagangan Selasa (12/5/2026).
Indeks utama Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut terkoreksi 46,72 poin atau 0,68 persen ke level 6.858,9. Sementara itu, indeks unggulan LQ45 justru bergerak berlawanan arah dengan penguatan tipis sebesar 0,18 persen ke posisi 669,84.
Ratna Lim Kepala Riset Phintraco Sekuritas menilai pelemahan IHSG dipengaruhi oleh tekanan eksternal maupun domestik. Salah satu sentimen utama berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus di atas Rp17.500 per dolar Amerika Serikat.
Selain itu, pasar juga mencermati potensi penurunan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI yang menambah kekhawatiran investor global terhadap aset domestik.
“Pelemahan rupiah pada level terendah baru, serta antisipasi penurunan bobot oleh MSCI menjadi faktor negatif yang mendorong pelemahan IHSG,” ujar Ratna dilansir dari Antara.
Dari sisi pasar obligasi, imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun tercatat naik 10 basis poin ke level 6,72 persen, yang merupakan level tertinggi dalam dua pekan terakhir. Kenaikan ini turut memberikan tekanan tambahan pada pasar saham.
Menurut Ratna, kenaikan yield dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia yang memicu kekhawatiran pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sehingga menekan sentimen rupiah yang kembali melemah ke rekor sekitar Rp17.525 per dolar AS.
Kenaikan yield obligasi tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Amerika Serikat, yield obligasi pemerintah meningkat menjelang rilis data inflasi, sementara di Inggris terjadi lonjakan ke level tertinggi sejak 2008 di tengah tekanan politik terhadap perdana menteri setempat.
Dari sisi sektoral, tekanan terbesar datang dari sektor kesehatan yang turun 3,52 persen. Sebaliknya, sektor barang baku (basic materials) mencatatkan penguatan tertinggi sebesar 1,85 persen.
Secara teknikal, IHSG diperkirakan akan menguji area support di kisaran 6.700–6.750. Namun, jika mampu bertahan di atas level tersebut, indeks berpeluang mengalami technical rebound menuju 6.900.
Selama perdagangan berlangsung, sebanyak 217 saham tercatat menguat, 486 saham melemah, dan 256 saham stagnan.
Kapitalisasi pasar BEI tercatat sebesar Rp12.146 triliun dengan volume perdagangan mencapai 31,08 miliar saham dan frekuensi 2,51 juta transaksi. Nilai transaksi harian tercatat sebesar Rp16,27 triliun.
Secara sektoral, beberapa sektor masih mencatat penguatan seperti energi, keuangan, barang baku, serta transportasi dan logistik. Namun, mayoritas sektor lainnya mengalami tekanan, termasuk industri, kesehatan, infrastruktur, dan barang konsumen. (ant/saf/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

