“Melalui Kadin Institute, kami akan mengajarkan bagaimana melakukan harmonisasi kurikulum kepada industri. Di sisi lain, guru dan dosen juga akan kami dampingi agar memiliki pemahaman yang sama dalam menyusun kurikulum berbasis kebutuhan industri,” ujarnya.
Adik menargetkan setiap fasilitator mampu mendampingi sedikitnya 10 perusahaan bersama mitra pendidikannya. Dengan 10 fasilitator yang mengikuti pelatihan angkatan pertama, Kadin Jatim optimistis program ini dapat menjangkau sekitar 100 industri pada tahap awal.
Selain Surabaya, program tersebut juga akan diperluas ke berbagai daerah melalui Kadin kabupaten dan kota agar semakin banyak industri yang terlibat dalam sinkronisasi kurikulum vokasi.
“Harapannya, semakin banyak industri yang dapat didampingi sehingga semakin banyak pula sekolah dan perguruan tinggi yang memiliki kurikulum sesuai kebutuhan dunia kerja,” ujarnya.
Sementara itu, Ilham Hasbiullah Senior Program Officer VET Development Swisscontact menjelaskan bahwa pendekatan Job and Occupational Analysis menempatkan industri sebagai titik awal penyusunan kurikulum.









