Kamrussamad Anggota Komisi XI DPR RI menilai penguatan nilai tukar rupiah membutuhkan langkah yang lebih mendasar dibanding sekadar kebijakan moneter jangka pendek.
Menurutnya, penguatan sektor manufaktur, hilirisasi industri, serta perluasan kerja sama perdagangan internasional menjadi fondasi penting agar ketergantungan Indonesia terhadap dolar Amerika Serikat dapat berkurang.
Hal itu disampaikan Kamrussamad dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertajuk “Sinergi dan Kolaborasi Bersama Menguatkan Rupiah, RI Tak Lagi Bergantung Pada Dolar” di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Menurut Kamrussamad, stabilitas dan kekuatan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga sangat bergantung pada kondisi fundamental ekonomi nasional.
“Indonesia telah memilih rupiah sebagai mata uang nasional. Tantangannya sekarang adalah bagaimana menjaga stabilitas dan memperkuat nilai tukarnya di tengah dinamika ekonomi global,” ujar Kamrussamad.
Ia menjelaskan bahwa dalam beberapa dekade terakhir rupiah mengalami tekanan terhadap dolar AS. Kondisi tersebut, kata dia, menjadi pengingat bahwa Indonesia perlu memperkuat struktur ekonomi agar memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap perubahan situasi global.
Kamrussamad mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini masih banyak ditopang konsumsi rumah tangga. Karena itu, kontribusi sektor industri manufaktur terhadap perekonomian nasional perlu terus ditingkatkan.
“Kalau industri manufaktur berkembang, maka penciptaan lapangan kerja formal juga akan meningkat secara signifikan. Ini yang akan memperkuat daya tahan ekonomi nasional,” katanya.
Ia menilai kebijakan hilirisasi sumber daya alam yang dijalankan pemerintah telah memberikan arah yang positif dalam meningkatkan nilai tambah komoditas nasional.
Selain itu, penguatan sektor energi, pangan, pertanian, dan perikanan juga dinilai dapat memperbesar kontribusi sektor produksi dan ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, Kamrussamad mengapresiasi perkembangan kawasan ekonomi khusus yang dinilai mampu menarik investasi serta memperkuat basis industri manufaktur dalam negeri melalui berbagai insentif yang diberikan.
Terkait perdagangan internasional, ia menilai penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara perlu diperluas melalui kerja sama bilateral maupun regional. Langkah tersebut dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus memperkuat posisi rupiah dalam perdagangan global.
“Secara bertahap kita harus memperbesar penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada satu mata uang saja,” ujarnya.
Kamrussamad menegaskan, penguatan struktur ekonomi domestik, peningkatan daya saing industri manufaktur, hilirisasi, serta diversifikasi perdagangan internasional merupakan kombinasi strategi yang diperlukan agar rupiah semakin kuat dan perekonomian Indonesia lebih tangguh menghadapi berbagai gejolak global.
“Dengan fondasi ekonomi yang kuat dan perdagangan yang semakin beragam, Indonesia akan memiliki ketahanan yang lebih baik dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi dunia,” pungkasnya.(faz/ham)
NOW ON AIR SSFM 100

