Senin, 27 Juli 2026

Media Internasional Soroti Mundurnya Perry Warjiyo dan Kekhawatiran atas Independensi BI

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Perry Warjiyo mantan Gubernur Bank Indonesia (BI). Foto: Dok Antara

Mundurnya Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang diumumkan secara tiba-tiba, Senin (27/7/2026) pagi, turut mendapat sorotan dari media internasional.

Salah satunya kantor berita internasional, Reuters, yang menyoroti keputusan tersebut berpotensi mengguncang kepercayaan investor yang sebelumnya sudah mengkhawatirkan independensi bank sentral. Pemerintah Indonesia pun meminta pelaku pasar tetap tenang selama proses transisi kepemimpinan berlangsung.

Sebelumnya, Prasetyo Hadi Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) mengatakan, Prabowo Subianto Presiden telah menerima surat pengunduran diri Perry. Destry Damayanti Deputi Gubernur Senior BI kemudian ditunjuk sebagai pejabat sementara.

Destry menyatakan Perry mengajukan pengunduran diri pada, Sabtu (25/7/2026), karena alasan pribadi. Namun, pemerintah tidak menjelaskan lebih lanjut alasan yang melatarbelakangi keputusan tersebut.

Perry sendiri memulai karier di BI pada 1984. Ia pertama kali dilantik sebagai gubernur pada 2018 dan kembali ditunjuk untuk masa jabatan kedua selama lima tahun pada 2023. Namun hingga berita ini ditayangkan, Perry yang tidak hadir dalam konferensi pers juga belum memberikan keterangan langsung mengenai pengunduran dirinya.

Reuters menuliskan, BI selama ini menghadapi tekanan untuk mendukung agenda pertumbuhan ekonomi tinggi pemerintahan Prabowo. “Pada saat bersamaan, rupiah sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah pada Juni, di tengah kekhawatiran terhadap pengelolaan fiskal dan independensi bank sentral,” tulis Reuters dalam laporannya Senin pagi.

Untuk diketahui, setelah pengunduran diri Perry diumumkan, rupiah sempat melemah hingga 0,36 persen ke level Rp18.000 per dolar AS. Sementara Indeks Harga Saham Gabungan bergerak fluktuatif antara zona penguatan dan pelemahan.

Bhima Yudhistira Adhinegara Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) menilai, hal yang perlu diantisipasi setelah Perry mundur adalah potensi melemahnya independensi Bank Indonesia.

“Memulihkan kepercayaan investor tentu tidak akan mudah, terutama karena arah kebijakan moneter berada di bawah kendali eksekutif. Selama tekanan politik terhadap BI terus berlangsung, pengganti Perry dari internal juga tidak akan bertahan lama,” kata Bhima dikutip Reuters.

Reuters turut menyoroti undang-undang yang disahkan DPR pada bulan lalu. Aturan itu memperkuat peran BI dalam mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus memberikan kewenangan kepada anggota parlemen untuk mengeluarkan rekomendasi mengikat kepada bank sentral dan lembaga pengawas keuangan independen.

Angus Mackintosh Pengamat ASEAN dari Aletheia Capital mengatakan, respons pasar akan sangat bergantung pada sosok yang nantinya ditunjuk sebagai gubernur definitif.

Menurutnya, pasar berpotensi curiga apabila jabatan tersebut diisi figur yang memiliki kedekatan politik dengan pemerintah karena Gubernur BI merupakan posisi teknokratis yang harus tetap independen.

Penunjukan gubernur baru akan melibatkan presiden dan DPR. Presiden mengajukan nama calon untuk mengikuti uji kelayakan dan kepatutan sebelum mendapatkan persetujuan parlemen.

Di satu sisi, Prasetyo Mensesneg mengatakan, hingga saat ini Presiden belum mengajukan nama calon Gubernur BI yang baru. Pemerintah memastikan proses pemilihan akan dilakukan secara transparan dan akuntabel. Pergantian kepemimpinan juga diklaim tidak akan mengganggu kebijakan moneter maupun stabilitas ekonomi.

Destry sendiri juga berjanji menjaga kesinambungan tugas dan kewenangan BI untuk mempertahankan stabilitas rupiah dan sistem keuangan, sekaligus menciptakan kondisi ekonomi yang mendukung pertumbuhan.

Reuters juga mengaitkan pengunduran diri Perry dengan perhatian lembaga pemeringkat internasional terhadap perubahan mandat BI. Moody’s dan Fitch sebelumnya memasukkan persoalan tersebut sebagai salah satu faktor penurunan prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif.

Namun, S&P mempertahankan prospek peringkat Indonesia tetap stabil. Lembaga itu menilai BI masih memiliki independensi operasional yang relatif sejalan dengan bank sentral negara-negara lain di kawasan.

Sebelum pengunduran diri Perry, BI pada pekan lalu mengejutkan pasar dengan mempertahankan suku bunga acuan. Bank sentral memilih menawarkan insentif baru untuk menarik aliran modal asing dan menopang nilai tukar rupiah.

BI sebelumnya telah menaikkan suku bunga dengan total 100 basis poin sejak Mei sebagai upaya menjaga rupiah.

Reuters menilai pergantian mendadak pejabat ekonomi penting dapat kembali menimbulkan kekhawatiran pasar. Tahun lalu, pencopotan Sri Mulyani Indrawati dari posisi Menteri Keuangan juga sempat mengguncang investor yang mencemaskan kredibilitas fiskal Indonesia di tengah besarnya agenda belanja pemerintahan Prabowo. (bil/saf/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat Besi Terguling di Sukomanunggal Surabaya

Muatan Menggunung

Pelangi di Ujung Pagi Surabaya

Surabaya
Senin, 27 Juli 2026
28o
Kurs