Di sisi lain, lanjut Amru, penurunan harga minyak setelah meredanya kekhawatiran pasokan memberikan sedikit ruang bagi mata uang regional untuk bergerak lebih stabil.
Melihat sentimen domestik, perhatian pasar disebut masih tertuju pada kondisi fiskal dan stabilitas pasar keuangan, terutama kemampuan pemerintah menjaga kredibilitas Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) di tengah tekanan eksternal.
Pergerakan rupiah juga tercermin dari JISDOR yang pada Rabu (16/9) berada di Rp17.712 per dolar AS, naik dari Rp17.687 pada hari sebelumnya.
“Dengan kondisi tersebut, rupiah berpotensi bergerak volatil dan masih berada dalam tekanan dalam jangka pendek, dengan kisaran Rp17.650 – Rp17.800 per dolar AS. Pergerakan selanjutnya akan dipengaruhi oleh arah kebijakan The Fed, perkembangan yield US Treasury, serta sentimen terhadap kondisi fiskal domestik,” ungkap dia. (ant/fia/lta)

NOW ON AIR SSFM 100

