Muhammad Amru Syifa Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) menyatakan pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi perkembangan kebijakan moneter AS.
“Pergerakan rupiah saat ini masih dipengaruhi oleh perkembangan kebijakan moneter AS dan kondisi pasar global,” ucapnya di Jakarta melansir Antara, Kamis (17/9/2026).
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis, bergerak melemah 43 poin atau 0,24 persen menjadi Rp17.739 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.696 per dolar AS.
Pada Rabu (16/9/2026), Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4,00 persen di tengah inflasi AS yang masih berada di atas target.
Keputusan tersebut dinilai memberikan dukungan bagi dolar AS dan menjaga yield US Treasury pada level tinggi, sehingga ruang penguatan rupiah masih terbatas.
Di sisi lain, lanjut Amru, penurunan harga minyak setelah meredanya kekhawatiran pasokan memberikan sedikit ruang bagi mata uang regional untuk bergerak lebih stabil.
Melihat sentimen domestik, perhatian pasar disebut masih tertuju pada kondisi fiskal dan stabilitas pasar keuangan, terutama kemampuan pemerintah menjaga kredibilitas Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) di tengah tekanan eksternal.
Pergerakan rupiah juga tercermin dari JISDOR yang pada Rabu (16/9) berada di Rp17.712 per dolar AS, naik dari Rp17.687 pada hari sebelumnya.
“Dengan kondisi tersebut, rupiah berpotensi bergerak volatil dan masih berada dalam tekanan dalam jangka pendek, dengan kisaran Rp17.650 – Rp17.800 per dolar AS. Pergerakan selanjutnya akan dipengaruhi oleh arah kebijakan The Fed, perkembangan yield US Treasury, serta sentimen terhadap kondisi fiskal domestik,” ungkap dia. (ant/fia/lta)

NOW ON AIR SSFM 100

