Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menegaskan kondisi ekonomi Indonesia tidak akan mundur ke era 1998. Purbaya Yudhi Sadewa Menteri Keuangan (Menkeu) memastikan, belum terjadinya perlambatan ekonomi dan Indonesia masih baik-baik saja.
“Ada yang bilang katanya kita mundur di ’98 lagi. Anda tahu ’98 itu terjadi kapan? 98 itu terjadi pergantian kekuasaan setelah ekonominya resesi selama 1 tahun. Ini belum melambat juga belum. Jadi orang-orang itu masih lihat data lebih cermat lagi,” kata Menkeu di kantor Kementerian Keuangan, Senin (4/5/2026)
Menkeu mengatakan berbagai kebijakan dan langkah-langkah lainnya untuk mendorong perekonomian telah dilakukan pemerintah. Berbagai insentif juga diberikan. Tujuannya untuk menjaga stabilitas ekonomi bangsa.
“Kita juga menyadari kalau ada ada gangguan ekonomi, kita akan kasih insentif semua agar semuanya berbalik,” katanya.
Ke depan pemerintah juga terus berupaya meningkatkan kondisi ekonomi di Indonesia, khususnya di tengah gejolak geopolitik global.
“Tapi kan enggak boleh ngomong aja, kita jalankan dengan instrumen-instrumen yang lain, untuk membantu ekonomi supaya mereka betul-betul melihat ada perbaikan,” ujarnya.
Sebelumnya Purbaya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 bisa mencapai 5,7 persen. Pemerintah, kata dia, masih memiliki waktu untuk mendorong aktivitas ekonomi karena periode kuartal II baru berjalan hingga April dan masih menyisakan Mei serta Juni.
“Kami akan dorong ke sana (5,7 persen). Ini kan April belum habis. Masih ada Mei dan Juni. Nanti begitu April datanya jelas, kami lihat, kami akan kasih dorongan lagi ke ekonomi,” ujarnya.
Pada 1998 terjadi krisis moneter. Di mana krisis keuangan 1998 yang berawal dari Thailand pada Juli 1997, menyebar ke Korea Selatan, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan beberapa negara lain, telah meruntuhkan perbankan dan rupiah.
Perekonomian kawasan Asia pun rontok dan Indonesia terdampak sangat parah. Kurs rupiah merosot 83,3 persen dari Rp2.500 per dollar AS di medio 1997 menjadi Rp15.000 di 1998. Pertumbuhan ekonomi pada 1997 yang masih di angka 4,7 persen terjun bebas menjadi minus 13 persen.
Tiga indikator utama perekonomian, yaitu pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan nilai tukar semuanya sangat buruk dan terjelek setelah periode 1965-1966.
Faktor utama keterpurukan ini adalah banyaknya utang pemerintah dan korporasi dalam valuta asing. Sementara cadangan devisa dan PDB hanya US$ 19 miliar dan US$ 95 miliar.(lea/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100

