Senin, 13 Juli 2026

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.109 per Dolar AS, Dipicu Memanasnya Konflik AS-Iran

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi - Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. Foto: Antara

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Senin (13/7/2026).

Pelemahan mata uang Garuda dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat saling serang.

Berdasarkan data penutupan perdagangan, rupiah terkoreksi 44 poin atau 0,24 persen menjadi Rp18.109 per dolar AS.

Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.065 per dolar AS.

Ibrahim Assuaibi analis pasar uang mengatakan, tekanan terhadap rupiah berasal dari meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik antara AS dan Iran.

Menurutnya, Iran melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah fasilitas milik AS di kawasan Teluk pada Minggu (12/7/2026).

Teheran juga mengumumkan kembali penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.

“Teheran menargetkan fasilitas AS di negara-negara di seluruh Teluk pada hari Minggu (12/7) dan mengatakan bahwa mereka telah kembali menutup Selat Hormuz,” ujar Ibrahim dilansir dari Antara, Senin (13/7/2026).

Ibrahim menjelaskan, memanasnya kembali konflik tersebut memunculkan keraguan terhadap masa depan perjanjian sementara antara AS dan Iran yang ditandatangani bulan lalu.

Kesepakatan itu sebelumnya ditujukan untuk membuka kembali Selat Hormuz sekaligus mengakhiri konflik melalui proses negosiasi selama 60 hari.

Penutupan kembali Selat Hormuz turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global yang dapat memicu lonjakan inflasi.

Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuannya pada level tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

“Risalah dari pertemuan Fed bulan Juni yang dirilis pekan lalu telah menunjukkan beberapa pembuat kebijakan percaya ada alasan untuk menaikkan suku bunga, sementara para pejabat secara umum menyatakan kekhawatiran yang lebih besar atas tekanan inflasi bahkan ketika kekhawatiran tentang pasar tenaga kerja mereda,” kata Ibrahim.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia juga menunjukkan pelemahan rupiah.

Pada perdagangan Senin, JISDOR berada di level Rp18.131 per dolar AS, turun dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp18.069 per dolar AS. (ant/saf/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi di Ujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Senin, 13 Juli 2026
28o
Kurs