Sementara itu, melihat sentimen domestik, data penjualan ritel yang dirilis Kamis (10/9/2026) menunjukkan perbaikan aktivitas konsumsi, sehingga menjadi salah satu faktor yang membantu membatasi pelemahan rupiah.
“Untuk perdagangan selanjutnya, fokus pasar akan bergeser pada CPI (Consumer Price Index) AS yang dirilis Jumat malam (11/9/2026). Hasil inflasi tersebut akan menjadi penentu apakah penguatan dolar dan kenaikan yield AS berlanjut menjelang keputusan The Fed pekan depan,” jelasnya.
Ia mengatakan, jika CPI lebih tinggi dari perkiraan, rupiah berpotensi kembali tertekan, sedangkan hasil yang lebih rendah dapat membuka ruang pemulihan. Dengan kondisi tersebut, rupiah diperkirakan bergerak cukup volatil dalam kisaran Rp17.500 – Rp17.650 per dolar AS.
Seperti diketahui, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.611 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.536 per dolar AS.(ant/ris/faz)

NOW ON AIR SSFM 100

