Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 mencapai 5,2 persen, atau naik 0,5 poin persentase dari proyeksi sebelumnya.
Ibrahim mengatakan kenaikan proyeksi tersebut mencerminkan penguatan konsumsi swasta dan peningkatan pengeluaran publik pada pergantian tahun.
“Lonjakan pertumbuhan ini mencerminkan menguatnya konsumsi swasta dan peningkatan pengeluaran publik pada pergantian tahun. Momen Ramadan dan Idulfitri yang datang lebih awal, pencairan THR (Tunjangan Hari Raya) dan gaji ke-13, serta percepatan peluncuran program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut berhasil menggeser pengeluaran pemerintah menjadi lebih awal dalam siklus fiskal,” katanya.
Meski demikian, Bank Dunia menilai aktivitas ekonomi domestik menunjukkan pelemahan setelah periode tersebut. Hal itu antara lain tercermin dari indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur yang turun menjadi 49,3 pada Agustus serta indeks kepercayaan konsumen yang melemah menjadi 116,8 pada Juli.
Pelebaran defisit juga menjadi perhatian pasar karena berpotensi meningkatkan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dan peringkat utang negara.
NOW ON AIR SSFM 100

