Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada penutupan perdagangan Selasa (12/5/2026). Rupiah ditutup melemah 115 poin atau 0,66 persen ke level Rp17.529 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.414 per dolar AS.
Tiffani Safinia Analis Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange mengatakan bahwa tekanan terhadap rupiah dipicu oleh ekspektasi pasar bahwa suku bunga tinggi bank sentral AS atau The Fed akan bertahan lebih lama.
“Penguatan dolar AS masih didorong oleh ekspektasi suku bunga tinggi The Fed yang bertahan lebih lama, meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah, serta kenaikan harga minyak dunia yang meningkatkan tekanan terhadap rupiah,” ujar Tiffani.
Pasar saat ini memperkirakan Fed Fund Rate (FFR) belum akan mengalami penurunan sepanjang tahun 2026 dan tetap berada di kisaran 3,75 persen.
Dilansir dari Antara, berdasarkan proyeksi CME FedWatch, probabilitas suku bunga di level 350-375 basis points (bps) masih mendominasi hingga akhir tahun.
Selain menanti arah kebijakan suku bunga, pelaku pasar juga mencermati perkembangan inflasi AS yang akan menjadi penentu langkah moneter The Fed selanjutnya.
Dari sisi domestik, pelemahan rupiah turut dipengaruhi sentimen aliran modal asing dan persepsi investor terhadap kondisi pasar keuangan Indonesia. Sorotan dari MSCI terkait transparansi dan struktur pasar modal Indonesia disebut ikut meningkatkan kehati-hatian investor global terhadap aset domestik.
Menurut Tiffani, kekhawatiran pasar juga muncul terkait kapasitas fiskal pemerintah, potensi membengkaknya subsidi energi ketika rupiah melemah, hingga tingginya kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang luar negeri korporasi pada periode April hingga Mei.
“Kombinasi faktor tersebut membuat tekanan terhadap rupiah menjadi lebih besar dibandingkan mata uang regional lainnya,” katanya.
Ia menilai pelemahan rupiah berpotensi memicu imported inflation atau inflasi impor karena meningkatnya biaya impor bahan baku, energi, dan barang konsumsi. Kondisi ini dinilai dapat mendorong kenaikan harga di dalam negeri secara bertahap.
Selain itu, depresiasi rupiah juga berisiko meningkatkan tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama dari sisi subsidi energi dan kewajiban pembayaran utang dalam valuta asing.
Sektor korporasi turut menghadapi tantangan, khususnya perusahaan yang memiliki utang dolar AS namun pendapatannya berbasis rupiah. Kondisi tersebut berpotensi menekan arus kas dan meningkatkan biaya operasional perusahaan.
Meski demikian, pelemahan rupiah dinilai masih memberi dampak positif terbatas bagi sektor ekspor karena meningkatkan daya saing harga produk Indonesia di pasar global.
Sementara itu, Bank Indonesia disebut masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar valuta asing, penguatan instrumen moneter, serta kebijakan pengendalian permintaan dolar AS domestik.
“Secara umum, pasar saat ini melihat pergerakan rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen global dan arus modal jangka pendek. Selama ketidakpastian geopolitik masih tinggi dan arah suku bunga AS belum berubah signifikan, volatilitas rupiah diperkirakan masih akan tetap tinggi dalam jangka pendek,” ujar Tiffani.
Berdasarkan data Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, nilai tukar rupiah pada Selasa juga melemah menjadi Rp17.514 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.415 per dolar AS. (ant/saf/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

