Selain faktor domestik, pergerakan rupiah juga dipengaruhi perkembangan ekonomi Amerika Serikat. Aktivitas sektor jasa AS masih menunjukkan kinerja solid pada Agustus 2026.
Indeks PMI Jasa S&P Global AS tercatat 56,8, meningkat dari 54,6 pada bulan sebelumnya sekaligus menjadi level tertinggi sejak Desember 2024. Capaian tersebut juga berada di atas perkiraan pasar sebesar 54.
Namun, sektor manufaktur AS menunjukkan perlambatan. PMI Manufaktur turun dari 53,9 menjadi 53,2, sekaligus menjadi level terendah dalam lima bulan terakhir.
Ibrahim menilai kondisi tersebut perlu dicermati karena tekanan inflasi yang berasal dari kenaikan harga energi dapat memengaruhi arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
“Di sisi lain, kekhawatiran akan inflasi akibat harga energi di tengah ketegangan yang terus berlanjut di Timur Tengah dapat memicu kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve (Fed) dalam beberapa bulan mendatang,” ujarnya.
Sementara itu, berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah justru tercatat menguat tipis. Kurs JISDOR berada di level Rp17.703 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.705 per dolar AS. (ant/saf/ham)

NOW ON AIR SSFM 100

