Ekspektasi kebijakan moneter AS yang lebih ketat tersebut turut menopang dolar AS dan menjaga imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury tetap tinggi.
Kondisi itu dapat memengaruhi pergerakan mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain perkembangan kebijakan The Fed, pelaku pasar juga menantikan sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat.
Di antaranya data awal Purchasing Managers’ Index (PMI) S&P Global dan survei Sentimen Konsumen University of Michigan (UoM) untuk September.
“Pasar juga akan memantau serangkaian pernyataan dari para pejabat The Fed untuk mendapatkan petunjuk terkini mengenai arah kebijakan di masa mendatang,” ujar Ibrahim.
Di pasar domestik, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mencatat pelemahan rupiah. Pada Selasa, JISDOR berada di level Rp17.883 per dolar AS, melemah dari posisi sebelumnya Rp17.813 per dolar AS. (ant/saf/ipg)









