Rabu, 15 Juli 2026

Rupiah Menguat ke Rp18.070 per Dolar AS, Inflasi Amerika Serikat Melandai

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi - Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. Foto: Antara

Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu (15/7/2026).

Rupiah naik 21 poin atau 0,12 persen menjadi Rp18.070 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di Rp18.091 per dolar AS.

Rully Nova analis Bank Woori Saudara mengatakan, penguatan rupiah dipengaruhi sentimen positif dari pasar global, terutama setelah inflasi Amerika Serikat menunjukkan tren perlambatan dan diikuti penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat pada kisaran Rp18.000 hingga Rp18.105 per dolar AS, dipengaruhi faktor global berupa melandainya inflasi AS dan menurunnya yield obligasi pemerintah AS,” ujar Rully.

Berdasarkan data yang dikutip dari Anadolu, inflasi konsumen tahunan Amerika Serikat melambat menjadi 3,5 persen pada Juni 2026 dari 4,2 persen pada Mei. Angka tersebut juga berada di bawah ekspektasi pasar.

Secara bulanan, Indeks Harga Konsumen (IHK) AS tercatat turun 0,4 persen pada Juni setelah sebelumnya naik 0,5 persen pada Mei. Penurunan itu menjadi yang terbesar sejak April 2020.

Sementara itu, inflasi inti tercatat tidak mengalami perubahan secara bulanan dan melambat menjadi 2,6 persen secara tahunan dari sebelumnya 2,9 persen.

Menurut Rully, perlambatan inflasi tersebut dipicu oleh penurunan harga energi, khususnya minyak, setelah berlangsungnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran pada Juni lalu.

“Landainya inflasi AS didorong oleh penurunan harga minyak pada Juni saat berlangsungnya gencatan senjata antara AS dan Iran,” katanya dilansir dari Antara.

Ia menambahkan, turunnya inflasi membuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat ikut mereda.

Kondisi itu turut mendorong penurunan yield obligasi pemerintah AS dan memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.

Dari dalam negeri, pelaku pasar kini menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.

Rully memperkirakan Bank Indonesia masih akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75 persen.

“Dalam rapat RDG nanti diperkirakan BI akan tetap menahan suku bunga acuan di 5,75 persen,” ujarnya. (ant/saf/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi di Ujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Rabu, 15 Juli 2026
30o
Kurs