Menurut Ibrahim, langkah tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap potensi terganggunya distribusi minyak dunia, mengingat sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati Selat Hormuz.
“Investor tetap khawatir bahwa eskalasi militer lebih lanjut atau tindakan balasan dapat mengganggu aliran minyak dari kawasan Teluk setelah Iran melancarkan serangan drone terhadap aset AS di Kuwait dan menyerang kapal di Selat Hormuz menggunakan rudal jelajah,” katanya.
Ia menilai meningkatnya ketegangan berpotensi mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. Kondisi tersebut dapat memperbesar tekanan inflasi global, menekan pasar saham, serta memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral di berbagai negara.
Sentimen lain datang dari Amerika Serikat setelah Christopher Waller Gubernur Federal Reserve menyatakan bank sentral AS perlu mempertimbangkan kenaikan suku bunga apabila data inflasi atau Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) kembali meningkat.
“Meskipun bersikap hawkish, ia masih melihat kemungkinan inflasi mencapai target 2 persen tanpa kenaikan suku bunga dan menyatakan pasar tenaga kerja sudah semakin mendekati target lapangan kerja maksimum The Fed,” ujar Ibrahim.
Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mencatat penguatan rupiah. Pada Selasa, kurs referensi BI berada di level Rp18.099 per dolar AS, menguat dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp18.131 per dolar AS. (ant/saf/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

