Kamis, 23 April 2026

Rupiah Sentuh Rp17.304 per Dolar AS, Pengamat Sebut Faktor Eksternal Penyebab Utamanya

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Ilustrasi - Teller memegang mata uang Dolar AS dan Rupiah di sebuah tempat penukaran uang di Jakarta. Foto: Antara

Nilai tukar rupiah tercatat melemah pada Kamis (23/4/2026) siang, dan sempat turun 123 poin atau 0,72 persen ke posisi Rp17.304 per dolar AS pada pukul 13.32 WIB, angka ini lebih rendah dibanding penutupan sebelumnya di level Rp17.181 per dolar AS.

Ibrahim Assuaibi pengamat ekonomi mata uang dan komoditas menilai pelemahan rupiah kali ini dipicu kuat oleh faktor eksternal, terutama ketegangan geopolitik yang melibatkan AS dan Iran.

“Salah satu penyebabnya, pertama adalah masalah eksternal, dimana pertemuan di minggu ini antara AS dan Iran yang difasilitasi Pakistan gagal. Iran tidak ikut dalam perundingan tersebut karena AS sudah menyalahi aturan dalam gencatan senjata dengan melakukan penangkapan terhadap kapal tanker Iran yang melewati Selat Hormuz,” ujarnya di Jakarta, Kamis (23/4/2026) yang dilansir Antara.

Ketegangan meningkat karena Iran disebut siap menghadapi konflik berkepanjangan, menyusul menurunnya kepercayaan terhadap AS. Sementara itu, AS mendorong kesepakatan terkait pengelolaan Selat Hormuz serta penghentian pengayaan uranium, yang ditolak Iran karena dianggap melanggar kedaulatan.

Melihat dari sesi internal, tekanan juga datang dari lonjakan harga minyak Brent yang saat ini tercatat mencapai 103 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate berada di kisaran 98 dolar AS per barel, nilai tersebut berpotensi memperlebar defisit anggaran.

Masalah lainnya, yakni adanya kapal tanker milik Pertamina yang tertahan di kawasan Selat Hormuz akibat konflik di kawasan Asia Barat.

“Kita melihat kebutuhan impor minyak dunia Indonesia itu adalah 1,5 juta barel per hari. Kita harus tahu kebutuhan minyak mentah di Indonesia dalam satu hari itu adalah 2,1 juta barel per hari, sehingga pemerintah harus menyiapkan anggaran yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan minyak tersebut,” kata Ibrahim.

Selain itu, beban utang pemerintah yang mendekati jatuh tempo juga turut memengaruhi stabilitas ekonomi. Di sisi lain, kebijakan subsidi energi, khususnya untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti Pertalite, dinilai akan semakin menekan anggaran negara.

“Tidak menaikkan harga BBM subsidi ini membuat subsidi pemerintah semakin besar, sehingga harus mencari anggaran dari kementerian lain. Ini yang bisa membuat defisit anggaran kembali melebar,” ujarnya.

Ia menambahkan, International Monetary Fund (IMF) telah mengingatkan agar Indonesia membatasi subsidi terhadap barang atau komoditas untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2026, asumsi harga minyak ditetapkan sebesar 70 dolar AS per barel dengan batas atas 92 dolar AS.

Sementara target nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp16.500 per dolar AS, namun realisasi saat ini telah melampaui asumsi tersebut yang menyentuh Rp17.300 per dolar AS. Akibatnya, pemerintah berpotensi membutuhkan tambahan anggaran untuk menutup beban, terutama dari sektor impor minyak mentah dunia.

“Kemungkinan besar di akhir April yaitu minggu depan, kemungkinan akan tembus level Rp17.400 per dolar AS,” kata Ibrahim.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) juga menyebut ketidakpastian global jadi penyebab rupiah menembus angka Rp17.300 per dolar. Meski demikian, Destry Damayanti Deputi Gubernur Senior BI menyampaikan pergerakan Rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year-to-date sebesar 3,54 persen.

“Tekanan terhadap rupiah hari ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional. Pergerakan Rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year-to-date sebesar 3,54 persen,” kata Destry melalui keterangan tertulisnya, Kamis (23/4/2026). (ant/zan/bil/ham)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Kamis, 23 April 2026
28o
Kurs