Ia menambahkan, banyak kendaraan ekspedisi, trailer, kontainer, dan kendaraan logistik lain yang menumpuk keluar dari kawasan pergudangan dan pelabuhan. Barang-barang dari luar daerah masuk ke Jatim melalui jalur laut, sementara produk dari Jatim juga dikirim ke luar pulau maupun untuk kebutuhan ekspor.
“Ini juga bisa menjadi tanda bahwa pertumbuhan ekonomi di Jatim sedang meningkat,” katanya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menjelaskan bahwa terdapat faktor pergeseran ke BBM subsidi. Menurutnya, kenaikan konsumsi BBM subsidi dan kompensasi negara juga tidak lepas dari kondisi harga minyak dunia.
Pada 2026, lanjut dia, kuota BBM subsidi dan kompensasi sebenarnya sudah dinaikkan 12 persen dibanding 2025 sebagai bentuk antisipasi. Namun, faktor geopolitik membuat harga minyak mentah dunia berfluktuasi, yang berimbas pada naiknya harga BBM umum atau nonsubsidi. Kondisi tersebut membuat masyarakat cenderung bergeser menggunakan BBM subsidi dan kompensasi negara, yakni pertalite dan solar.
“Akibatnya, masyarakat cenderung shifting atau bergeser ke BBM subsidi dan kompensasi negara,” jelasnya.









