Senin, 6 April 2020

Fatwa MUI: Paramedis Tangani COVID-19 Boleh Shalat Tanpa Wudhu

Laporan oleh Anggi Widya Permani
Bagikan
Ilustrasi. Petugas medis berpakaian APD lengkap berupa baju hazmat mendorong tenpat tidur beroda tempat pasien berstatus dalam pengawasan Corona menuju ruang isolasi RSUD dr. Iskak Tulungagung, Jumat (13/3/2020). Foto: Antara

Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa soal tenaga medis dengan alat pengaman diri (APD) yang mengurusi pasien COVID-19 boleh tidak wudhu karena itu dalam keadaan mendesak.

“Dalam kondisi hadas dan tidak mungkin bersuci (wudhu atau tayamum), maka ia melaksanakan shalat boleh dalam kondisi tidak suci dan tidak perlu mengulangi (i’adah),” demikian bunyi Fatwa MUI Nomor 17 Tahun 2020 yang disahkan Hasanuddin AF Ketua Komisi Fatwa MUI dan Asrorun Niam Sholeh Sekretaris Komisi Fatwa MUI di Jakarta, Kamis (26/3/2020).

Hasanuddin mengatakan, fatwa tersebut agar menjadi pedoman shalat bagi tenaga kesehatan yang memakai APD saat menangani pasien COVID-19.

Salah satu poin penting fatwa, kata dia, tenaga kesehatan Muslim yang merawat pasien COVID-19 dengan APD tetap wajib melaksanakan shalat fardhu dengan berbagai kondisinya diikuti sejumlah keringanan.

Pada kondisi tenaga medis berada dalam rentang waktu shalat dan memiliki wudlu, kata dia, maka boleh melaksanakan shalat dalam waktu yang ditentukan meski dengan tetap memakai APD yang ada.

“Sementara dalam kondisi sulit berwudlu maka dia bertayamum kemudian melaksanakan shalat”, kata dia, dilansir Antara.

Saat kondisi APD yang dipakai terkena najis dan tidak memungkinkan untuk dilepas atau disucikan, kata Hasanuddin, maka yang bersangkutan melaksanakan shalat boleh dalam kondisi tidak suci dan mengulangi shalat (i’adah) usai bertugas.

Dia mengatakan, ketika kondisi jam kerja tenaga medis sudah selesai atau sebelum mulai kerja masih mendapati waktu shalat maka wajib shalat fardhu sebagaimana mestinya.

Kemudian, kata dia, dalam kondisi tenaga medis bertugas mulai sebelum masuk waktu zhuhur atau maghrib dan berakhir masih berada di waktu shalat ashar atau isya maka boleh melaksanakan shalat dengan jamak ta’khir.

Sementara dalam kondisi bertugas mulai saat waktu zhuhur atau maghrib dan diperkirakan tidak dapat melaksanakan shalat ashar atau isya, lanjut dia, maka yang bersangkutan boleh melaksanakan shalat dengan jamak taqdim.

“Dalam kondisi ketika jam kerjanya berada dalam rentang waktu dua shalat yang bisa dijamak (zhuhur dan ashar serta maghrib dan isya’), maka ia boleh melaksanakan shalat dengan jamak,” kata dia.

Hasanuddin mengatakan, bagi penanggung jawab bidang kesehatan wajib mengatur shift bagi tenaga kesehatan Muslim yang bertugas dengan mempertimbangkan waktu shalat agar dapat menjalankan kewajiban ibadah dan menjaga keselamatan diri.

“Tenaga kesehatan menjadikan fatwa ini sebagai pedoman untuk melaksanakan shalat dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan diri,” katanya. (ant/ang)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Korban Rumah Roboh di Ketintang

Trailler Tabrak Pembatas Jalan di Tol

Mobil Terbakar di Karah Indah 1

Surabaya
Senin, 6 April 2020
31o
Kurs