Minggu, 29 November 2020

Mahasiswa PENS Modifikasi Face Shield Pendeteksi Suhu Tubuh

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Pendeteksi tubuh dipasang didepan face shiled untuk mengetahui suhu tubuh orang dihadapannya. Foto: Humas PENS

Upaya memutus penyebaran Covid-19 terus dilakukan mahasiswa PENS, dan kali ini mahasiswa jurusan Elektronika memodifikasi face shield berkemampuan mendeteksi suhu tubuh orang dihadapan penggunanya.

Mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) jurusan Elektronika angkatan 2018, memodifikasi face shield berkemampuan mendeteksi suhu tubuh orang di hadapannya. Temuan tersebut sebagai bagian keikutsertaan PENS memutus penyebaran Covid-19.

Kali ini tiga mahasiswa jurusan Elektronika, masing-masing adalah Muhammad Iqbal Millyniawan Pradana, Firmansyah Putra Maulana dan Muhammad Iodine Hanifan Firdaus, dan ketiganya adalah mahasiswa angkatan 2018.

“Pada kondisi wabah pandemi Covid-19 saat ini, ada protokol yang umum dilakukan masyarakat yaitu cek kesahatan suhu tubuh. Karena kemudahannya dalam mengidentifikasi ciri tersebut. Namun kami menyayangkan, peralatan pengukur suhu yang dijual dipasaran masih kurang dapat mengamankan masyarakat terutama orang yang mengukur karena saat pengukuran suhu cukup lama dan alat harus didekatkan dengan orang yang diukur suhunya. Sehinggan perlindungan keselamatannya sangat minim,” terang Muhammad Iqbal Millyniawan Pradana yang juga sebagai ketua tim.

Dengan latar belakang tersebut tiga mahasiswa ini menciptakan alat pendeteksi seseorang terindikasi Covid-19 dengan cepat dan akurat bernama Temperature Detector Shield.

M. Iqbal yang akrab disapa Iqbal menjelaskan, alat ini berupa face shield (pelindung wajah) yang dikombinasikan dengan thermal laser dan dilengkapi dengan sensor GY-906 MLX90614 serta lensa agar dapat mendeteksi suhu tubuh sesorang dengan akurasi yang cukup baik tanpa bersentuhan fisik dengan objek yang diukur (contactless).

“Untuk pengolahan data sensor menggunakan Mikroprosesor Arduino Pro Mini yang kemudian tampilan outputnya akan muncul pada layar LCD OLED yang berada didepan. Sehingga sensor ini memiliki tingkat akurasi sebesar kurang lebih 0.5 oC pada jarak maksimal satu meter jika menggunakan lensa, yang sangat sesuai dengan anjuran WHO yaitu jarak aman sejauh 1 meter,” jelas M. Iqbal.

Alat ini juga dilengkapi dengan baterai dengan jenis lithium polymer (LiPo) sebesar 350mAh, jenis baterai ini dipilih lantaran ukurannya yang kecil namun memiliki daya besar.

Pengecekan suhu tubuh yang dilakukan petugas juga harus cepat. “Dalam pengecekan, petugas harus melakukannya dengan cepat. Jika tidak, akan terjadi antrian dan justru menambah risiko penularan. Maka dari itu, alat kami sangat aman dan cepat karena ada pada face shield nya langsung,” tambah M. Iqbal.

Proses pengerjaan alat membutuhkan waktu sekitar dua minggu. Hal ini disebabkan banyaknya komponen utama bahan yang harus dipesan secara online.

“Karena situasi pandemi seperti ini, jadi kami tetap menerapkan protokol kesehatan. Komponen Temperature Detector Shield kami pesan secara online. Pengirimannya membutuhkan waktu 7 sampai 9 hari,” ujar mahasiswa asal Gresik ini.

Uniknya, ketiga mahasiswa ini tak bertatap muka selama mengerjakan Temperature Detector Shield. Dengan lokasi yang berbeda, Iqbal dari Gresik, Firman dari Surabaya dan Iodine dari Sidoarjo. Untuk bisa menyelesaikan alat ini, mereka berkomunikasi melalui Whatsapp dan Zoom.

Iqbal yang merupakan ketua tim mengakali dengan membagi tugas menjadi tiga bagian. Iqbal bertugas menangani elektrik atau perangkat kerasnya, Firman mengerjakan desainnya, dan terakhir Iodine bertanggung jawab atas programmingnya.

Tahap pembuatan Temperatur Detector Shield ini dilakukan secara berurutan. Mulai dari elektrik, kemudian memasuki tahap desain, lalu dirangkai menjadi satu (assembly), dan terakhir pembuatan programnya.

Ketiga mahasiswa ini berharap akan lebih menyempurnakan alatnya sebelum digunakan khalayak. “Kami berharap bisa menyempurnakannya lagi, dengan menambahkan fitur yang memungkinkan seperti sensor, jumlah orang yang bisa terdeteksi dan penyimpanan data,” pungkas Iqbal.

Sementara itu, Ir. Anang Budikarso, M.T., Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan PENS mendukung dan mengapresiasi karya inovasi teknologi yang dibuat para mahasiswa tersebut.

“Selama pandemi kegiatan kemahasiswaan tidak pernah off, kami ingin memunculkan kreatifitas dan inovatifnya mahasiswa PENS meskipun perkuliahan dan semua kegiatan dilakukan secara daring,” ujar Ir. Anang Budikarso.

Anang Budikarso berharap semua karya yang telah dibuat mahasiswa mudah-mudahan menjawab keresahan masyarakat di situasi pandemi ini dan agar bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

“Saat ini masyarakat sedang resah, semoga dengan berusaha menciptakan dan berkarya untuk menciptakan solusi-solusi dengan membuat alat baik itu aplikasi maupun sebuah alat prototype. Karya yang dibuat bisa berstandart, sehingga bisa dipatenkan untuk diperbanyak. Nantinya bisa disumbangsihkan ke masyarakat dan Rumah Sakit, yang sekarang sedang sangat-sangat membutuhkan,” pungkas Anang Budikarso, Sabtu (30/5/2020).(tok/iss)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Hujan Deras di Balonggebang Nganjuk

Kemacetan di Perak Barat

Kecelakaan di Simpang Empat Mertex Mojokerto

Surabaya
Minggu, 29 November 2020
25o
Kurs