Sabtu, 4 Desember 2021

Perhimpunan Dokter Paru Minta Masyarakat Waspadai Gejala “Long Covid”

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Ilustrasi. Grafis: dok. suarasurabaya.net

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia meminta masyarakat mewaspadai gejala Long Covid yang bisa menyerang pasien maupun penyintas meski telah dinyatakan negatif.

“Pasien Covid-19 perlu mewaspadai hal ini, meski gejala Long Covid bisa diatasi secara medis,” kata Kombespol Yahya dokter spesialis paru sekaligus Kabag Pembinaan Fungsi RS Bhayangkara R Said Sukanto Jakarta dilansir dari Antara, Sabtu (5/6/2021).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, data yang didapat sebanyak 53,7 persen pasien merasakan gejala Long Covid selama satu bulan, 43,6 persen selama satu hingga enam bulan, dan 2,7 persen selama enam bulan lebih.

Gejala yang ditimbulkan dari Long Covid di antaranya seperti pelemahan fisik secara umum, sesak nafas, nyeri sendi, nyeri otot, batuk, diare, kehilangan penciuman, dan pengecapan.

Selanjutnya, secara gender, kata Yahya, pasien laki-laki juga lebih besar peluangnya terkena efek Long Covid terutama bagi mereka yang merokok, selain yang bergejala berat.

“Biasanya pasien Covid-19 yang bergejala berat atau mungkin yang berhasil sembuh setelah dibantu ventilator, memiliki kemungkinan lebih besar untuk menderita Long Covid ini,” katanya.

Yahya menambahkan salah satu faktor penting dari gejala Long Covid dipicu oleh kondisi psikologis pasien. “Memang ada kelemahan seseorang, gampang cemas, gampang depresi, ini juga faktor yang membuat seseorang Long Covid,” katanya.

Dia menyarankan pada saat perawatan maupun saat isolasi mandiri, jika pasien merasakan gejala Long Covid setelah dinyatakan sembuh, mereka diminta untuk terus berkonsultasi dengan dokter.

Sementara itu, I Gusti Ngurah Kade Mahardika Ahli Virologi Universitas Udayana menjelaskan semua jaringan tubuh manusia bisa terinfeksi oleh virus penyebab Covid-19 ini.

“Jadi Long Covid ini membuat pasien berisiko alami kerusakan jaringan tubuh dalam jangka panjang hingga menyebabkan gangguan respons imun dan gangguan saraf. Karena itu, mohon jangan lagi menganggap remeh Covid-19 ini,” katanya.

Cahyandaru Kuncorojati yang merupakan salah satu penyintas Covid-19 mengatakan virus itu mengganggu kesehatan fisik dan psikologis pasien.

“Waktu saya dirawat bersama istri dan dua anak saya yang masih kecil, saya memikirkan anak saya. Saya bertekad untuk segera sembuh agar anak saya yang masih usia dua tahun dan satu lagi tujuh bulan bisa segera saya pantau juga kesembuhannya,” katanya.

Cahyandaru mengalami kehilangan penciuman dan pengecapan selama kurang lebih satu bulan, kemudian ia dinyatakan negatif gejala Long Covid. “Berangsur-angsur mulai kembali, tapi sampai sekarang indera penciuman saya tidak setajam dulu lagi,” katanya.

Menyikapi kondisi itu, Yahya menyarankan agar pasien tersebut kembali melatih indera penciuman agar sensitivitasnya kembali pulih.

“Untuk pasien yang kehilangan kemampuan penciuman dan pengecapan memang perlu dibangkitkan lagi sensitivitasnya, seperti mencium bau-bau yang sangat menyengat seperti minyak kayu putih dan parfum yang sangat harum. Ini perlu dilatih setiap hari agar pulih secepatnya,” tutup Yahya.(ant/frh)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Sabtu, 4 Desember 2021
29o
Kurs