Jumat, 26 Februari 2021

Pertama di Dunia, Alat I-Nose C-19 ITS Mampu Deteksi Covid-19 dari Bau Ketiak

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) telah mengembangkan I-Nose C-19, alat yang mampu mendeteksi Covid-19 dari bau keringat ketiak seseorang. Foto: Humas ITS

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) telah mengembangkan I-Nose C-19, alat yang mampu mendeteksi Covid-19 dari bau keringat ketiak seseorang. Alat ini diklaim merupakan yang pertama di dunia.

Prof Riyanarto Sarno Guru Besar Departemen Teknik Informatika ITS sekaligus Ketua Tim Pengembangan I-Nose C-19 menjelaskan, alat screening Covid-19 ini berbasis teknologi kecerdasan buatan.

Pengembangan perangkat lunak alat ini melibatkan mahasiswanya dari jenjang magister dan doktoral selama empat tahun. Penyesuaian dengan virus Covid-19 dikerjakan sejak Maret 2019 lalu.

Dia mengeklaim, I-Nose C-19 adalah alat screening Covid-19 pertama di dunia yang mendeteksi virus melalui sampel bau keringat ketiak (axillary sweat odor) yang diambil dari para suspek.

“Keringat ketiak adalah non-infectious. Artinya, limbah atau udara buangan I-Nose C-19 yang diproses dengan artificial intelligence (AI) tidak mengandung virus Covid-19,” katanya.

 

I-Nose C-19 adalah alat screening Covid-19 pertama di dunia yang mendeteksi virus melalui sampel bau keringat ketiak (axillary sweat odor) yang diambil dari para suspek. Foto: Humas ITS

 

Profesor yang akrab disapa Ryan itu juga mengeklaim, alat yang dia kembangkan bersama tim itu punya sejumlah kelebihan dibandingkan teknologi screening Covid-19 lain yang sudah ada.

Pertama, kata dia, sampling dan pemrosesan screening bisa dilakukan dengan menggunakan satu alat saja. Sehingga seseorang bisa langsung melihat hasilnya dalam waktu cepat.

“I-Nose C-19 juga dilengkapi fitur near-field communication (NFC), sehingga pengisian data cukup dengan menempelkan e-KTP ke alat deteksi cepat Covid-19 ini,” ujar Ryan dalam keterangan resminya.

Data dalam I-Nose C-19, menurutnya juga terjamin handal. Sebab, penyimpanan data alat ini bsia langsung dilakukan di dalam alat yang terintegrasi dengan penyimpanan awan (cloud storage).

Penggunaan cloud computing dalam I-Nose C-19, menurutnya juga memungkinkan alat ini bisa diakses secara langsung oleh publik, pasien, dokter, rumah sakit, maupun laboratorium yang ada.

Tidak hanya itu, dari segi biaya, Ryan menjamin bahwa alat yang dia kembangkan memiliki komponen teknologi dengan harga terjangkau dan pengoperasiannya tidak butuh keahlian khusus.

Scanner ini bisa dilakukan oleh semua orang dengan perangkat pengaman yang lebih sederhana. Bisa hanya dengan sarung tangan dan masker sebagai perlindungan dasar,” katanya.

Saat ini, I-Nose C-19 sudah sampai pada fase satu uji klinis. Ryan bilang, timnya akan terus meningkatkan dan mengembangkan kapasitas data sampling untuk memenuhi syarat izin edar.

“Saya harap, I-Nose C-19 ini bisa segera dikomersialkan ke masyarakat. Targetnya maksimal tiga bulan ke depan. Ini untuk menjawab kebutuhan teknologi screening Covid-19 yang mudah dan cepat,” katanya.

Kemarin, Sabtu (16/1/2021), Tim Pengembang I-Nose C-19 telah mempresentasikan alat ini kepada Emil Elestianto Dardak Wakil Gubernur Jawa Timur di rumah dinasnya.

Emil mengapresiasi hasil inovasi ITS dalam mendukung percepatan penanganan Covid-19. Mantan Bupati Trenggalek itu puny menyatakan dukungan penuh untuk inovasi teknologi yang sudah dilakukan ITS. (den/ang)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk Tabrak Warung di Sidoarjo

Truk Terguling di Prigen

Terguling dan Muatannya Tumpah

Mobil Masuk Sungai di Jemursari

Surabaya
Jumat, 26 Februari 2021
25o
Kurs