“Artinya saat subduksi ada lempeng masuk ke mantel Bumi, lalu lempeng terpanaskan dan memeras H2O. Akhirnya mantel jadi tidak stabil, membentuk magma,” terangnya.
Soal erupsi sejumlah gunung api dalam waktu berdekatan, Haris mengatakan aktivitas itu pada dasarnya bagian dari proses kebumian yang berlangsung terus-menerus.
“Karena kita punya sumber panas yang selalu ada, inti Bumi yang sangat panas, sehingga gunung api kita menghasilkan magma. Itu terjadi di semua gunung api kita. Kalau ada yang belum beraktivitas itu hanya masalah waktu,” katanya.
Dia juga menjelaskan material yang dikeluarkan saat erupsi setiap gunung api tidak selalu sama. Karakter letusan dipengaruhi oleh jenis magma dan kondisi batuan di bawah masing-masing gunung.
“Ada gunung api yang letusannya tidak terlalu tinggi, sekitar kolom apinya satu kilometer. Ada juga yang seperti Gunung Kelud belasan kilometer ke atas bahkan puluhan. Itu yang membedakan, magma yang dihasilkan tiap gunung api sangat spesifik. Kondisi batuan di bawah gunung api beda-beda,” jelas Haris.

NOW ON AIR SSFM 100

