Selasa, 25 Agustus 2026

Dinas Pendidikan Jatim Perkuat Keterampilan Vokasi ABK untuk Dorong Kemandirian Ekonomi

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Pelatihan Tata Busana untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang digelar oleh UPT Pengembangan Teknis Keterampilan dan Kejuruan (PTKK) Dinas Pendidikan Jatim. Foto: Dinas Pendidikan Jatim

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur memperkuat kompetensi vokasi untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) lewat pelatihan keterampilan yang digelar UPT Pengembangan Teknis Keterampilan dan Kejuruan (PTKK) Dinas Pendidikan Jatim di Surabaya, pada 19 – 24 Agustus 2026.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapat pembekalan pada tiga bidang keterampilan yang memiliki peluang untuk dikembangkan, yakni tata busana, tata boga, dan tata rias.

Aries Agung Paewai Kepala Dinas Pendidikan Jatim mengatakan, penguatan keterampilan vokasi bagi ABK tidak hanya ditujukan untuk menambah kemampuan teknis, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan membuka peluang kemandirian ekonomi.

“Bukan jumlah siswanya saja, yang pertama kompetensi yang perlu kita tambah. Ini kan ada tiga, tata kecantikan, tata boga, sama tata busana. Mungkin nanti ada keahlian-keahlian lain yang kita harapkan bisa linier,” terangnya, Selasa (25/8/2026).

Pelatihan tersebut tidak hanya diikuti murid, tetapi juga melibatkan guru pendamping. Menurutnya, strategi itu penting agar keterampilan yang diperoleh peserta tidak berhenti setelah pelatihan selesai, tetapi guru bisa melanjutkan pembelajaran vokasi di sekolah.

“Supaya gurunya nanti bisa continue kepada murid-murid yang ada di sekolah tersebut. Kalau muridnya, supaya mereka bisa mengembangkan ilmu yang mereka dapatkan sehingga bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-harinya,” jelasnya.

Pihaknya ingin, pelatihan tersebut mampu meningkatkan kepercayaan diri ABK sekaligus membuka peluang bagi mereka untuk tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga menciptakan usaha secara mandiri.

“Kalau dikembangkan, diperluas lagi ilmu mereka, saya yakin percaya dirinya semakin tinggi. Kalau percaya dirinya semakin tinggi, akhirnya nanti kita harapkan mereka tidak menganggur, tapi bisa buka wirausaha sendiri dengan hal-hal yang kecil-kecil tetapi bisa bermanfaat bagi dirinya, keluarga dan lingkungannya,” ujarnya.

Aries menyebut jumlah peserta dalam pelatihan kali ini masih terbatas. Namun, tingginya manfaat yang dirasakan peserta dan guru menjadi bahan evaluasi Dinas Pendidikan Jatim untuk mengembangkan program serupa dengan cakupan yang lebih luas.

“Ke depan kita berharap jumlahnya lebih banyak lagi, supaya lebih banyak manfaat bagi sekolah-sekolah lain. Kami mendengar dari guru, ini sangat bermanfaat supaya mereka bisa lebih intens mengajar anak-anak tentang vokasi keahlian khusus,” tuturnya.

Sementara itu, Tini Renang, instruktur tata rias dalam pelatihan tersebut mengatakan bahwa kemampuan peserta dalam tata rias masih berada pada tahap dasar, sehingga keterampilan tersebut perlu terus diasah melalui praktik secara berkelanjutan.

“Kompetensi mereka masih dalam tingkat dasar. Tapi patut diapresiasi dan terus diasah. Ada siswa yang unggul juga, tetapi memang harus dibiasakan terus-menerus,” ucapnya.

Dalam pelatihan, peserta dikenalkan dengan tata rias cantik hingga makeup kreatif seperti body painting dengan motif bunga dan daun. Peserta juga mendapat pemahaman dasar mengenai kosmetologi, mulai dari jenis dan warna kulit hingga bentuk wajah.

Anoraga Mona, Guru Kecantikan SLB Gedangan menilai pelatihan tersebut memberikan pengalaman baru bagi peserta, baik dari sisi keterampilan maupun keberanian untuk tampil dan berinteraksi dengan peserta dari daerah lain.

“Bagus sekali, menambah ilmu dan anak-anak juga berani tampil. Mereka bisa bertemu teman-teman dari daerah lain,” tuturnya.

Menurutnya, keterampilan vokasi menjadi salah satu bekal penting bagi ABK untuk membangun kemandirian. Bahkan, sejumlah lulusan telah mampu membuka layanan tata rias secara mandiri setelah menyelesaikan pendidikan.

Dalam kesempatan itu, Chef David Bryan Satria, instruktur tata boga mengatakan bahwa peserta dikenalkan dengan berbagai peralatan yang tidak seluruhnya tersedia di sekolah.

Mereka juga mempraktikkan pembuatan sejumlah produk, termasuk kreasi nastar dengan isian dan bentuk yang beragam.

“Yang kami kira dari nol atau belum bisa sama sekali, di luar prediksi kami sudah lumayan hampir mahir. Ketika membuat produk, menimbang dan membedakan jenis bahan sudah tahu. Pengenalan alat juga mereka paham,” ucapnya.

Ia berharap keterampilan kuliner yang diperoleh peserta dapat menjadi modal untuk membuka peluang ekonomi secara mandiri setelah lulus.

“Harapannya semoga setelah lulus dari sekolah bisa membuka lapangan pekerjaan sendiri, bisa menjadi wirausaha di bidang kuliner,” pungkasnya. (ris/saf/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Surabaya
Selasa, 25 Agustus 2026
28o
Kurs