Jumat, 24 April 2026

Disabilitas Tunanetra Jalani Tes UTBK di Unesa Gunakan Perangkat Audio

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Peserta disabilitas tunanetra mengikuti UTBK SNBT 2026 di Unesa dengan pendampingan dan bantuan perangkat khusus. Foto: Unesa

Peserta disabilitas tunanetra mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Kampus 2 Lidah Wetan dengan mendapat pendampingan dan bantuan perangkat khusus.

Martadi Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni, merinci bahwa sesi disabilitas di Unesa tahun ini diikuti total enam peserta yang terdiri dari dua peserta tunarungu pada hari Rabu (22/4/2026) dan empat peserta tunanetra pada Kamis (23/4/2026).

“Fasilitas yang disediakan meliputi ruang khusus dan pendamping. Infrastruktur teknis seperti jaringan dan perangkat audio telah disiapkan agar peserta dapat mengerjakan soal secara mandiri melalui perintah suara,” terang Martadi pada Jumat (24/3/2026).

Untuk mendukung kemandirian peserta dalam menjawab soal, kampus menyiagakan dukungan teknologi asistif di setiap unit komputer.

I Gusti Lanang Putra Eka Prismana Koordinator TIK Unesa menjelaskan bahwa penyelenggaraan ujian menggunakan perangkat lunak Non Visual Desktop Access (NVDA).

Perangkat lunak tersebut berfungsi untuk menerjemahkan tampilan visual pada layar menjadi format audio bagi peserta.

Selain itu, peserta juga dibekali reglet dari panitia pusat untuk membantu proses perhitungan selama ujian.

“Panitia telah menerima kiriman perangkat cadangan sebesar 50 persen dari jumlah peserta sebagai langkah antisipasi kendala teknis di lapangan,” tambahnya.

Sukarmin Kasubdit Admisi Unesa menjelaskan bahwa ada juga perangkat khusus untuk kategori low vision yang memiliki fitur pembesaran layar (zoom) yang disiapkan.

“Namun, perangkat tersebut tidak digunakan pada sesi ini karena seluruh peserta yang hadir di Unesa merupakan kategori tunanetra total,” ucapnya.

Shakina Aliya Bilbina peserta disabilitas asal Mojokerto mengaku memilih Program Studi S-1 Pendidikan Luar Biasa (PLB) Unesa sebagai pilihan pertamanya.

Shakina menyebutkan bahwa persiapannya untuk UTBK telah dilakukan sejak masih duduk di bangku SMA.

“Motivasi saya masuk PLB adalah ingin membantu anak-anak tunanetra lainnya agar bisa membaca Braille,” ujarnya.

Perguruan tinggi memastikan, pengalaman peserta seperti Shakina menjadi dasar untuk terus menerapkan mekanisme seleksi yang komprehensif bagi penyandang disabilitas. Unesa menetapkan bahwa seleksi didasarkan pada hasil asesmen yang melibatkan psikolog, tim disabilitas, serta tim akademik.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan calon mahasiswa dapat mengikuti proses studi dengan optimal sesuai dengan kondisi masing-masing.

Sementara bagi peserta yang tidak lolos pada tahap SNBT, Unesa menyediakan kesempatan melalui jalur mandiri khusus disabilitas yang pendaftarannya akan dibuka mulai 15 Mei 2026, serta melalui berbagai jalur prestasi lainnya. Langkah tersebut merupakan bagian dari sistem penerimaan mahasiswa yang terbuka bagi penyandang disabilitas.(ris/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Jumat, 24 April 2026
31o
Kurs